Our Fate Chapter 5

Gambar

Title : Our Fate Chap 5

Cast : T-ara’s Jiyeon | Infinite’s Myungsoo | MBLAQ’s Mir

Author : Park Min Gi a.k.a Kjiyeon a.k.a @aiva_18

Length : Chapter

Genre : Sad, Romance, Hurt, Marriage Life

Rating : PG

Poster by http://highschoolgraphics.wordpress.com/

Disclaimer : Terinspirasi dari kisah nyata Maryani, orang asli Gorontalo. jalan cerita hampir mirip dengan yang asli, namun tidak semua mirip karena sudah banyak yang aku rombak dari cerita si Maryani. So, jangan bilang aku Plagiat, oke!!!

A/N :  WARNING TYPO!!!!!! Annyeong!!!!! Yey!! Akhirnya aku ngepublish juga ff ini. Maaaf ya aku telat ngepublish ffnya soalnya akhir-akhir ini aku sibuk. Nahh.. karena aku semakin sibuk dan juga kayanya minat ff ini mulai berkurang mulai chap berikutnya aku akan memprotek ff nya, alias bakalan aku pakai in password. Ga terima? Ya terserah. Ini juga menjadi cara mengatasi silent readers. Ya sudah nanti baca catatan diakhir ff ini, akan ada peraturan mulai chap 6 sampai ff ini tamat, dan juga ada cara untuk mendapatkan password.

HAPPY READING!!

Pagi yang indah, untuk sebuah lembar baru. Seharusnya, memang seperti itu bukan, segala sesuatu yang baru diawali dengan segala yang indah. Namun, terlewat  1 bulan sudah semenjak awal sebuah lembar baru dalam kehidupan mereka, tak ada yang baru, suasana yang sama, hening, tenang, dan canggung. 3 hal itu mendominasi rumah keluarga Kim Myungsoo.

Pagi itu, mereka sarapan dalam diam, Myungsoo yang fokus dengan makanannnya dan Jiyeon yang diam-diam melirik kearahnya. Namun, bukan Myungsoo namanya kalau tak tau apa yang dilakukan sang istri tercinta.

“ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanyanya mengakhiri sarapannya dipagi itu.

“a-aku..” Jyeon melirik takut kearah Myungsoo. Hey, apakah Myungsoo itu seorang hantu? Hingga kau saja yang berstatus sebagai istrinya memandanganya takut seperti itu, Park Jiyeon?.

“katakan lah!” ucap Myungsoo

“a-aku ingin keluar rumah siang ini, apakah kau..”

“pergilah! Aku tak kan melarangmu” katanya lagi memutus ucapan Jiyeon. “ aku pergi sekarang! Dan mungkin akan lembur, jangan menungguku seperti malam kemarin, aku menghargai usahamu namun kau juga harus menjaga kesehatanmu, aku tau itu pertama kalinya kau tidur larut malam” lanjutnya lagi, lalu segera pergi meninggalkan rumah menuju kantor perusahaan ayahnya.

“gomawo, Myungsoo oppa” lirih Jiyeon memandangi kepergian Myungsoo.

***

Jiyeon berjalan cepat di sebuah koridor gedung apartemen. Hati dan pikirannya hanya terpenuhi 1 nama, nama yang tak lain telah mengisi tempat khusus dihatinya, mantan kekasihnya, Mir. Semenjak hari dimana ia berganti marga menjadi Kim, sang mantan kekasih a.k.a Mir tak pernah lagi terlihat olehnya. Ia bingung, sungguh bahkan ponsel Mir pun tak aktif, ia tahu itu karena beberapa kali mengirim pesan singkat tak pernah ada balasannya, beberapa kali ia coba menghubunginya tak pernah tersambung.

Ia cemas, ia kawatir, ia takut. Bagaimana kalau sekarang ini Mir tengah kesakitan? Bagaimana jika Mir tak ada yang merawatnya? Bagaimana kalau Mir ingin kedokter namun tak bisa karena tak ada yang menemaninya? Bagaimana kalau saat ini Mir tengah terbaring lemas hingga…

“anniyo, anniyo, anniyo” Jiyeon menggeleng cepat menepis semua pikiran negatif nya tentang Mir. ia lebih mempercepat langkahnya, hingga kini ia tepat berdiri didepan ruangan itu.

Jiyeon menekan-nekan angka password milik sang mantan kekasih. Ya, Jiyeon telah diberi kepercayaan oleh Mir, dulu setelah mereka merayakan hari jadi pertama mereka.

Klik! password yang Jiyeon masukan salah, Jiyeon mengerutkan dahinya melihat hal itu kembali ia mencobanya kali ini secara perlahan. Namun, tanda peringatan bahwa password yang dimasukan salah pun kini juga terlihat. ‘apa yang salah?’ pikirnya.

Sementara Jiyeon tengah bergelut pada tombol-tombol password apatermen Mir, seorang yeoja memandang Jiyeon dengan sedikit mendelik, ia berdiri tak jauh dari Jiyeon.

“jiyeon eonni!” teriak perempuan itu, membuat Jiyeon tersentak kaget.

“eoh? Min Ri~ah!” ucap Jiyeon, Min Ri, gadis yang memanggil Jiyeon berlari kecil kearahnya.

“eonni, apa yang kaulakukan disini?” tanyanya

“memangnya kau pikir untuk apa lagi, eoh? Tentu saja menemui Mir oppa.”

“Mir oppa?” Min Ri terlihat berpikir.

“ya, Mir oppa, apa kau tau ia dimana sekarang? Kalau bisa aku ingin langsung masuk kedalam apartemennya, namun sepertinya ia mengganti kata sandinya” Jiyeon berusaha mengendalikan suaranya agar tak terdengar serak. Sungguh saat ini ia ingin menangis.

“eonni, mianhae, tapi, Mir oppa sudah pindah 3 minggu lalu, katanya ia di beri kepercayaan oleh presdir perusahaanya untuk menjadi direktur diperusahaan mereka di Amerika”   Jiyeon diam tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Min Ri.

“mworagoyo? Apakah kau bercanda? Maldo andwe!!” dan tepat beberapa detik setelah berkata keras, Jiyeon ambruk. Ia pingsan dipelukan seseorang. Seseorang yang tak lain adalah..

“Myungsoo oppa?”

***

Myungsoo POV

Aku tau ini salah, aku mengikuti ia. Lagi-lagi aku telah mengganggu privasinya. Tapi, aku tak bisa melakukan apapun, semenjak keluar dari apartemen aku merasa ragu, perasaanku tiba-tiba saja tak enak untuk pergi meninggalkannya. Dan akhirnya aku putuskan untuk mengikutinya.

Aku melirik kearah cermin mobilku, ia masih sama, belum terlihat tanda-tanda ia akan sadar. Aku mempercepat laju mobilku, aku mencemaskannya. Sungguh dan sangat.

***

“omo! Myungsoo~ah, apa yang terjadi dengan Jiyeon?”  terdengar jelas gelagat kawatir melalui ucapan Mrs. Park

“aku akan menjelaskannya, eommonim. Tapi, bisakah terlebih dahulu membawaku ke kemar Jiyeon” pinta Myungsoo secara sopan.

“ah, ya lewat sini” Mrs. Park mengantar Myungsoo membawa Jiyeon kedalam kamarnya. Setelah sampai dikamar, dengan sangat hati-hati Myungsoo merebahkan tubuh Jiyeon. dibelakangnya Mrs. Park masih menanti Myungsoo. Ia butuh jawaban atas hal ini.

“sebaiknya kita bicara diluar saja eommonim” kata Myungsoo, Mrs. Park hanya mengangguk lalu berjalan terlebih dulu, ia membawa Myungsoo menuju ruang keluarga.

“jadi, bagaimana ceritanya hingga Jiyeon bisa pingsan seperti itu?” tanya Mrs. Park to the point, sungguh ia sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu.

Myungsoo menjelaskan semuanya apa yang telah terjadi dari awal Jiyeon meminta izin untuk keluar rumah, ia yang secara diam-diam mengikutinya, hingga Jiyeon yang pingsan sehabis mendengar cerita Min Ri, salah satu tetangga Mir diapartemen itu.

Mrs. Park hanya diam setelah mendengar cerita Myungsoo, ia menatap seduh kearah Myungsoo. Dalam hati ia mengasihani anak lelaki ini. ‘bagaimana bisa ada lelaki sekuat dan setegar ia? Bagaimana bisa cintanya untuk Jiyeon sangat besar? Tapi aku sangat bersyukur karena ia mencintai Jiyeon dengan sangat besar dan tulus’ Mrs. Park membatin.

“baiklah, kurasa pilihanmu untuk membawa Jiyeon kemari adalah tepat. Kau memang mengerti Jiyeon, Myungsoo~ah. Kalau begitu selama 1 minggu ini kalian menginaplah disini. Eomma juga sudah sangat merindukan Jiyeon” ucap mrs. Park sembari tersenyum lembut.

“ne, eommonim, kalau begitu aku akan pulang untuk mengambil pakaian-pakaian Jiyeon dan juga…

“anniyo, ini sudah sore, sebentar lagi malam. Kalau kau ingin mengambil baju besok saja kau pergi, untuk malam ini kau gunakan saja dulu baju abeoji, kurasa ukuran baju kalian tak beda jauh. Nah, untuk Jiyeon dia masih memiliki banyak baju yang sengaja ia tak bawah kerumah kalian” jelas Mrs. Park mencegah kepergian Myungsoo, Myungsoo hanya dapat menerima permintaan eommonim, lalu ia berpamitan menuju kamar Jiyeon .

Mrs. Park memandang punggung Myungsoo seduh, ia sungguh salut dengan menantunya ini. Ia memang tak salah pilih. Myungsoo memang yang terbaik untuk Jiyeon. tekannya dalam hati.

***

Myungsoo tak sekalipun melepas pandangannya dari yeoja yang sedang tertidur itu, Park Jiyeon atau Kim Jiyeon. Myungsoo duduk ditepi kasur tempat tidur, ia terus saja mengamati pergerakan gadisnya itu.

“apa yang harus kulakukan agar kau bisa melihat kearahku? Aku mencintaimu, tak bisakah kau tau itu hanya dengan melihat caraku menatapmu? Lalu, kalaupun aku harus menunggu, selama apa itu? Apa bisa kau memberitahuku?” Myungsoo menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan perkataannya, “ aku tak bermaksud untuk memaksamu, Jiyeon~ah? Aku hanya takut, takut semuanya akan menjadi sia-sia. Aku takut kalau aku sudah terlewat batas dalam membuatmu mencintaiku. Apa aku bisa meminta sesuatu, aku mohon katakan padaku bila aku sudah melewati batasku padamu? Katakan padaku bila waktunya untukku berhenti , maka aku akan melakukannya, berhenti untuk membuatmu jatuh padaku. Namun, jangan pernah menyuruhku untuk berhenti mencintaimu, jangan tanya kenapa karena aku pun tak tau, yang aku tau aku mencintaimu, hari ini esok, dan selamanya. Aku benar-benar mencintaimu!” tegasnya, dan air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.

***

Cahaya mentari menerobos memasuki ruangan itu melalui sela-sela ventilasi. Mengetuk perlahan kelopak mata seorang yang matanya masih setia tertutup. Seorang itu mengerang pelan, namun tetap pada pendiriannya menutup mata. Namun, sinar mentari semakin menusuk matanya, benar-benar tak membiarkan seorang itu untuk tak lagi tidur.

Jiyeon, seorang itu bangun dari tidurnya, ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lalu, mengedarkan matanya kesetiap sudut ruangan itu.

“ini kamarku? Bagaimana bisa?” gumamnya bingung.

Bagai kaset yang terus diputar, kejadian kemarin sebelum ia pingsan terus terputar dalam otaknya, kembali menghidupkan kenangan menyakitkan yang setidaknya baru saja ia lupakan.

“hiks, hiks, oppa, Mir oppa eodiga?” gumamnya disela isak tangisnya.

“Jiyeon~ah!” Mrs. Park yang berniat untuk membangunkan serta memberikan Jiyeon sarapan terkaget saat melihat putrinya menangis, dengan segera ia menyimpan nampan berisi makanan untuk sarapan Jiyeon dinakas disamping tempat tidur Jiyeon. naluri keibuannya segera bekerja, ia langsung saja mendekap tubuh Jiyeon, membawanya dalam pelukannya, mencoba membagikan kekuatan untuk sang putri.

“apa yang sebenarnya terjadi, Jiyeon~ah?”

“eomma, Mir oppa, Mir oppa, eomma..” ia tak mampu melanjutkan perkataannya, tangisnya semakin keras terdengar, dan Mrs. Park semakin erat mendekap tubuh sang putri.

“kenapa dengan Mir? apa yang terjadi padanya, eoh?” ucap Mrs. Park, suaranya bergetar. Ya, ia menahan tangisnya. Ia sedih melihat putri semata wayangnya menangis seperti ini, rasa sakit yang dirasakan oleh Jiyeon seakan ia rasakan juga. Namun, ia juga sedih, mendengar nama Mir membuatnya tau bahwa sang anak masih sangat dan sangat mencintai lelaki itu

“dia meninggalkanku eomma. Ia pergi ke amerika tanpa pamit padaku. Apa ia sudah tak mencintaiku, eoh? Tapi, aku begitu mencintainya eomma. Eottokhe?” Jiyeon mencoba menjelaskan, namun tiba-tiba saja tubuhnya terdorong kebelakang. Mrs. Park melepas pelukannya pada Jiyeon.

PLAKK!!

Sebuah tamparan sukses mendarat dipipi Jiyeon. Mrs. Park menggeram, sungguh ia tak bermaksud seperti ini. Namun, ia hanya tak habis pikiran, bagaimana bisa Jiyeon berbicara dengan mulusnya mengatakan bahwa ia sangat mencintai Mir, sedang ia saat ini telah berstatus sebagai istri dari Kim Myungsoo.

“e-eomma” ucap Jiyeon kaget.

“bagaimana bisa kau menjadi gadis kejam seperti ini? Sebenarnya apa yang kau pikirkan, eoh? Kau adalah perempuan beristri Park Jiyeon. apa kau tak sadar dengan itu, eoh?” bentak Mrs. Park. Wajahnya memerah menahan amaran dan rasa sedihnya.

“arrayo eomma, tapi aku menikah dengannya bukan karena rasa cinta. Tak ada cinta diantara kita” Jiyeon menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, ia salah. Tapi menurutnya ini bukan kesalahannya sepenuhnya, bukan salahnya kalau ia masih mencintai lelaki lain selain suaminya, karena biar bagaimanapun ia menikah dengan seorang Kim Myungsoo bukan atas dasar cinta.

“Mwo? Kau bilang tak ada cinta diantara kalian. Pabbo anni? Myungsoo itu sa..”

“eommonim”  sebuah suara mengehntikan perkataan Mrs. Park, ia menoleh dan mendapati Myungsoo disana, tersenyum sembari membawa sebuah koper kecil di tangan kirinya, ia baru saja pulang dari mengambil pakaiannya diapartemennya.

“Myungsoo~ah, kau sudah pulang?” tanya eommonim, bicaranya mulai kembali melembut.

“ne, eommonim” jawab Myungsoo sembari tersenyum simpul, ia sedikit melirik kearah Jiyeon. gadis itu masih memegang pipi kirinya, bekas tamparan Mrs. Park, air mata nya juga masih setia menggenangi pipi tirusnya.

“apa kau tidak ke kantor?”

“ya, kurasa aku berencana pergi tapi..”

“pergilah, jangan kawatirkan Jiyeon disini, ada eommonim.”

“tapi eommonim.”

“pergilah, eommonim tau apa yang kau maksud, percaya pada eommonim” lalu Myungsoo hanya bisa mengangguk menanggapi permintaan Mrs. Park, sebelum pergi ia masih melihat kearah Jiyeon memastikan keadaan gadisnya itu.

Sepeninggalan Myungsoo, ruangan itu kembali diselimuti ketegangan, dan juga kecanggungan.

Huh, Mrs. Park mengehela nafas panjang.

“eomma, minta maaf, kau tau eomma tak pernah melakukan hal seperti ini. Eomma hanya bingung, Jiyeon~ah. Eomma, tak pernah mengajarkan mu hal seperti ini, kau mencintai lelaki lain selain suamimu. Harusnya kau tak seperti ini,harusnya sebulan yang lalu kau sudah belajar melupakan Mir, dan mencintai Myungsoo. Eomma tau itu berat untukmu, tapi kau juga harus tau bahwa ini juga berat untuk Myungsoo. Kau bilang tak ada cinta diantara kalian. Kalau kau tau hal seperti itu terjadi, harusnya kau tak membiarkannya bukan? Coba untuk hadirkan cinta diantara kalian, coba untuk mencintai Myungsoo, dengan seperti itu, ia juga akan mencintaimu, bukan?” Mrs. Park menggenggam kedua tangan Jiyeon,  berharap anaknya dapat mengerti dengan penjelasannya.

“mencintai Myungsoo oppa, dan itu artinya aku harus melupakan Mir” lirih Jiyeon yang terdengar oleh Mrs. Park.

“ya, lupakan Mir, karena ia juga akan melupakanmu, Jiyeon~ah. Kau harus tau, ia pergi ke Amerika bukan hanya karena ia akan menjadi direktur di salah satu perusahaan disana, tapi ia juga ingin melupakanmu, ia belajar hidup tanpamu, karena ia tahu kau memiliki laki-laki lain dalam hidupmu yang akan selamanya berada disampingmu, dan laki-laki itu adalah Myungsoo, jadi, belajar melupakan Mir dan hanya mengingat Myungsoo dihatimu disini, kau mengerti?”

“a-aku akan mencobanya, belajar melupakan Mir dan hanya mengingat Myungsoo. Aku akan melakukannya” lirih Jiyeon, pikirannya masih saja berputar, sejujurnya ia masih tidak mengerti apa yang diucapkan eommanya, ia hanya berkata apa yang terlintas dalam pikirannya saat mendengar kalimat terakhir eommanya. Mungkin memang itu yang harus dilakukan olehnya.

~Melupakan Mir dan Mengingat Myungsoo~

TBC

Peraturan aku mulai chapter 6 sampai seterusnya nanti adalah

  1. aku hanya akan kasih password sama yang minta langsung, jadi buat readers jangan sebarkan passwordnya. Kan percuma kalian undah cape-cape menghubungi aku untuk minta password ehh yang lainnya tinggal minta. Kan ga adil, iyakan?
  2. Aku akan menghitung jumlah yang minta password dengan komentar yang masuk. Jadi kalau ada yang minta password terus namanya tidak muncul dikotak komentar, kalian akan masuk blacklist aku, yang artinya kalau kalian minta password untuk chapter selanjutnya udah dipatiskan aku ga bakalan kasih. Maaf aja ya.. kalau kalian jahat aku juga bisa jahat dong..
  3. Setiap chapter passwordnya akan berganti.
  4. Tata cara meminta password sangat simple, kalian hanya perlu sertakan id yang biasa kalian gunakan untuk mengirim komentar di ff aku. Ngertiakn? Id kalian aja.
  5. Ada 4 cara yang bisa digunakan untuk meminta password ff aku :
    1. E-mail. Kalian bisa minta password dengan cara lewat email. Email aku adalah nuraiva5@gmail.com .
    2. Twitter. Silahkan mention aku,  bukan berarti kalian harus follow aku loh. Kalian tinggal mention aja, aku akan kirim lewat DM. Tapi, kalau ada yang mau follow, monggo aku bakalan follback selama kalian mention. Twitter : @aiva_18
    3. Facebook. Silahakan kirim pesan ke facebook aku, sama seperti twitter kalian tidak perlu menjadi teman aku untuk minta passwordnya. Selama kalian kirim pesan ke facebook aku bakalan kasih tau. Facebook : Nur Aiva (foto profilnya adalah MyungYeon)
    4. SMS. Silahakan meminta password dengan mengirimkan pesan kenomor hape aku. No aku : 0812-2477-7723.

Nah, itu adalah 4 cara meminta password. Aku tunggu ya yang mau passwordnya. Kalau ga mau juga ga apa-apa. Ehh tapi minta nanti aku udah publish chap selanjutnya yaitu chap 6 yang bakalan pakai password. Ngerti??????

See u in the next part of my fanfiction…..!!!!!!

Advertisements

82 thoughts on “Our Fate Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s