My Love Letter 2 Years Ago

my-love-letter-2-years-ago

Title : my  love letter 2 years ago

Author : @windyverentnita

Main cast :- choi minho ‘SHINee ‘

–          Park jiyeon  ‘T-ara’

Lenght : oneshoot

Genre : romance

Rating :  tentuin sendiri yah !!

 Annyeong haseyo!!!!

Pertama-tama aku ingin minta maap yang sebesar-besarnya karena aku nggak ngeposting  sampai blog ini mungkin akan lumutan,jadi sebagai gantinya aku ngeposting 4 FF sekaligus, untuk cerita yang  tidak menarik aku benar-benar minta maaF, karena itulah kemampuanku, dan kuharapkan untuk para reader, aku menginginkan comment yang bertujuan untuk mengkritik dengan bahasa yang membangun,karena kritik yang kalian katakan yang akan membangun keinginanku untuk terus bergulat di dunia F F, dan satu lagi, ada beberapa cerita, yang kumuat berdasarkan komik yang kubaca, bukan semuanya kok, jadi nggan termaksud memplagiat, banyak hal yang kutambahkan di ke 4 FF ini, dan satu lagi, untuk beberapa moment yang kubuat aku lagi-lagi harus minta maap jika itu tak seperti yang kalian harapkan, karena satu yang harus kutegaskan, author masih berumur 14 tahun! Jadi sumpah! Aku sama sekali belum berpengalaman apa-apa, jadi aku benar-benar minta kerja samanya, karena aku hanya bisa mengambil adegan dari cerita dan adegan drama yang kunonton,I think jus it, so happy reading and leave a comment!

Hai! Aku park jiyeon, yoeja yang selama ini selalu memerhatikanmu

Kau tahu? Saat kau tersenyum entah kenapa aku juga pasti akan mengembangkan senyumku

 Senyum itu selalu membuat aku seperti seseorang penyakitan

Bukan sakit, hanya saja sesak

Membuat tubuhku bergetar hebat ,kau tahu hati ni! Meronta-meronta saat melihat kau selalu mengembangkan senyum itu

Tapi entah mengapa bukan merasa kesal

Aku malah bersyukur karena masih di perizinkan  untuk melihat senyum itu

 Aku sudah berpikir keras

Hanya ada satu jawaban untuk apa yang kurasan

Saranghae..

Mungkin ini semua terdengar lucu, tapi asal kau tahu

Surat ini kutulis tulus dari hatiku

Aku sama sekali tak bermaksud meminta balasan, hanya saja aku  ingin menyampaikannya dan agar kau bisa menghargai perasaanku

Aku memang bukan yoeja romantis seperti kebanyakan orang di luar sana

Bahkan untuk menyampaikan perasaankupun aku harus meminta bantuan kertas ini

Namun satu yang perlu kutegaskan kembali

Ini semua tulus, benar-benar tulus dari hatiku

Jika kau ingin tahu aku, aku park jiyeon seorang siswi yang sekels denganmu, wajar sih jika kau tak mengenalku

Jeball!!!seperti yang kubilang tadi, aku tak membutuhkan jawaban, tapi jika kau mengizinkannya, aku akan menunggu jawabanmu besok di sekolah

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

 

hai! Aku park jiyeon! seorang yoeja  sederhana yang tak terlalu banyak menuntut apa-apa, aku terlahirkan dari keluarga yang bekecukupan,  tahun ini umurku genap 16 tahun dans aat ini aku duduk di kelas 2 SMA elit di korea.  Jalan hidupku tak banyak yang menarik, hanya menjalankan semuanya secara damai, hingga badai ini tiba-tiba menimpaku, membuatku harus berurusan dengan kegelapan yang tak ingin ku ingat kembali, namun mau di bilang apa, tuhan sudah merencanakannya dengan baik, aku harus melewati semuanya dengan seluruh kesabaranku

“MWO? K-k-kau…… “ teriakku histeris saat melihat seorang namja yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang murid pindahan, seluruh mata siswa dalam kelas kini sudah menatapku dengan bingung, aku tak menggubrisnya, pikiranku terbang melayang tak percaya namja itu berdiri lagi di depanku, setelah sekian lama

“ ternyata park jiyeon sudah mengenalmu!  Kau harus berlaku baik pada choi minho ne? “ aku hanya masih melongo, tak memperdulikan sama sekali apa yang di ocehkan saem di depan sana, bukannya mau bersikap kurang ngajar, aku hanya shock, saking shock.nya bahkan seluruh yang coba di jelaskan saem di depan sana tak di terima oleh otakku, mataku masih saja brjalan mencoba melirik namja pindahan tadi yang entah sejak kapan sudah duduk di samping mejaku. Aku mengacak rambutku kasar,

“ aisshhhh!!! Kenapa dia harus muncul lagi? “ umpatku pelan agar orang-orang tak mendengarnya, kutenggelamkan kepalaku di keduan lengan milikku, sungguh! Otakku benar-benra tak bisa menerima kehadirannya kembali. Cukup lama aku hanya menenggelamkan kepalaku seperti itu, hingga dapat kudengar suara bel tanda istirahat berbunyi, ku coba mengangkat wajahku kembali, bisa kulihat yoeja-yoeja yang mentapku tadi sudah berlari menghampiri namja pindahan tadi dengan berbagai pertanyaan  yang kutahu pasti mereka sebenrnya ingin berkenalan, aku hanya menarik napasku pelan saat melihat tingkah yoeja-yoeja itu yang saling dorong mendorong mencoba mencari perhatian kepada namja itu, sungguh! Walaupun aku seorang yoeja! Entah kenapa aku merasa yoeja-yoeja itu mengerikan, kau coba bisa bayangkan,  namja-namja di luar sana! mereka selalu bertegur sapa tanpa harus mengingat usia, tapi mereka Fine-Fine saja, tak pernah ada yang mempermasalahkannya, sedangkan  yoeja? Mereka selalu bertingkah mengerikan seperti itu jika ada yang membuat mereka tertarik, bermusuhan satu sama lain jika mereka berbeda pendapat, entahlah itu semua karena siFat yoeja yang sensitiF atu karena  bawaan dari yoeja-yoeja lain, maaF saja untuk kalian yang berjenis kelamin perempuan,tapi memang itu yang kuFikirkan

“ hei kau mengenal namja itu? “ kulihat IU sudah duduk di depan mejaku dengan senyum di wajahnya, aku hanya mentapnya tajam, jangan bilang dia juga tertarik pada namja itu

“ waeyo? Kau juga tertarik padanya? “kulihat IU hanya tersenyum kecil kemudian makin memajukan kursinya mendekat padaku

“ ayolah jiyeon! kenalkan padaku, atau ajak namja itu ngobrol! “ aku hany menarik naFasku lagi, mana mungki aku memperkenalkannya, apalagi harus mengajaknya ngobrol, hey! Itu benar-benar permintaan yang mengerikan

“ mana mungkin “ ucapku ketus, kulihat IU hanya menatapku bingung, aku yakin dia pasti heran, kenapa aku mengenalnya tapi aku malah tak ingin  bertegur sapa dengannnya, mau bagaimana lagi, itu memang sama sekali  tak mungkin

“ waeyo? “ oh god! Apa memang aku harus menceritakannya pada IU, kulihat yoeja itu, tatapannya masih saja menatapku dengan tajam, arrasoe, aku sama sekali tak tahan jika di tatap seperti itu

“ dia sudah menolakku dua tahun yang lalu “ ucapku dengan pasrah, kulihat IU langsung tertawa  terbahak-bahak, apa dia Fikir itu semua lucu apa?, benar-benar suka melihat sahabatnya menderita, aku hanya bisa membuang mukaku darinya, hal seperti ini yang membuatku malas menceritakan masalahku padanya, dia pasti akan langsung menertawaiku

“ yak! Berhenti tertawa lee ji eun! “ ucapku sedikit meninggi, kulihat IU sudah mulai sadar dan mengatur naFasnya dengan perlahan, kuplototi yoeja itu agar ia tak tertawa lagi

“ ternyata suka juga “ ucapnya dengan pelan, seketika tawanya kembali mengelegar, seluruh mata siswa di kelas menatap kami dengan bingung, aku yang benar-benar tak tahan mencoba beranjak berdiri untuk meninggalkan yoeja ini

“ yak park jiyeon! kau ingin meninggalkanku ? “ masih bisa kudengar dengan jelas teriakan IU  yang meneriakiku, aku sama sekali tak menggubrisnya, malah makin kulangkahkan kakiku dengan cepat, bukan aku tak menyukai sahabatku yang satu ini, hanya saja dia akan malah membuatku stres jika  terus berkeliaran di sekitarku, ku coba langkahkan kakiku ke taman sekolah, kudaratkan pantatku dengan pelan di salah satu bagku yang terdapat di taman itu, aku menyukai tempat ini, tenang untuk bisa membaca novel kesukaanku

“ hai! Lama tak berjumpa ya mrs.park ? Ini yah taman sekolahnya? “ aku langsung  membalikan badanku, menatap orang yang berbicara padaku, nyaris saja aku melompat dari bangku itu saat melihat orang yang sudah duduk manis di sampingku

“kenapa kau kemari? aku sudah tak ingin berhubungan denganmu” ucapku ketus,kulihat namja itu hanya terkekeh pelan, di pikirnya lucu apa?

“ kau masih marah karena waktu itu ?” aku hanya menarik napasku, dia sudah tahu apa masalahnya, kenapa masih harus bertanya?

“ itu pertanyaan atau pernyataan? “ tanyaku lebih ketus dari yang tadi, bukannya tersinggung dia malah makin mengembangkan senyumnya

“ jadi saat ini kau menganggapku sebagai musuhmu? “ aku menutup bukuku dengan kasar, kubangkitkan tubuhku dari bangku itu, kemudian menatapnya denga tajam

“ itu kau tahu, kenapa masih bertanya “ kubalikkan badanku bersiap untuk meninggalkan namja ini, sungguh aku tak ingin berurusan dengannya lagi, sudah cukup dia membuatku malu

“ hai! Aku park jiyeon, yoeja yang selama ini selalu memerhatikanmu! …………….” aku membelakkan mataku , spontan saja aku berbalik dan langsung menutup mulutnya dengan tanganku, kulihat dia hanya tesenyum, dasar namja iblis!

“padahal dulu kau menulis seperti itu” aku makin membelakkan mataku, kenapa dia masih bisa mengingat kata-kata di surat yang kutulis, belum sempat aku menanyakan hal itu, seakan tahu apa yang kupikirkan, namja ini mengambil sesuatu dari sakunya, aku makin melongo saat melihat kertas berwarna pink soFt dengan bentuk hati di depannya

“ seharusnya kau tak meninggalkan barang berbahaya seperti ini pada musuhmu “ badanku mematung dengan sempurna, kenapa dia masih menyimpan barang itu? Apa dia tak puas sudah membuatku malu saat smp dulu? Apa dia ingi mengulangnya lagi? Apa ia ingin membacakan isi surat itu di depan semua orang sama seperti dulu? Ku tatap namja itu, ia  tersenyum ,sedangkan aku hanya dapat tersenyum kecut dengan badan yang mulai melemas

“apa yang kau inginkan?”  tanyaku dengan nada yang kembali pelan, kulihat ia malah makin tertawa puas, apa yang coba ia rencanakan?

“ ikuti kemauanku! “aku hanya dapat mengangguk pelan, apa yang bisa kulakukan saat ini, jika kartuku ada pada musuhku sendiri?

^_^,^_^,^_^,^_^

“ kerjakan pr milikku!” aku mengangkat wajahku, menatap seseorang yang tiba-tiba membuang bukunya ke arahku, aku mendengus kesal kemudian kembai melanjutkan aktiFitasku membaca buku tanpa memperdulikan kehadirannya

“ya sudah jika tak mau. hai! Aku park jiyeon! yoeja yang selama………..” aku langsung menarik buku pelajaran yang di lemparkannya tadi, dengan cepat aku mulai menyalin pr yang sudah kukerjakan dari rumah sebelumnya, masih bisa kudengar dengan jelas namja itu tertawa pelan, apa dia berniat menyiksaku?

“ jadi kau ingin mengancamku seperti ini “ namja itu tak menggubrisnya, ia malah melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku, cihhh! Nappeun! Aku melanjutkan mengerjakan tugas miliknya, ya tuhan! Kenapa sekarang aku seperti menjadi pembantunya

“ sudah selsai?” aku langsung mengangkat wajahku lagi! Kenapa namja ini selalu muncul tiba-tiba. Pergi begitu saja  dan datang mengagetkanku

“sudah” aku melemparkan buku yang selsai kutulis itu kearahnya, kulihat ia  membukannya, mungkin berusaha untuk memeriksa, tak membutuhkan waktu lama kulihat senyum langsung mengembang di wajahnya, sebegitu senangnyakah  setelah sukses memperalat seseorang? Kubuang kembali tatapanku kearah buku yang ku baca tadi dengan kesal. Awas saja jika aku berhasil mendapatkan surat itu

“ untukmu!” ucapnya yang selama sekali  tak kuhiraukan, masih kudengar dia mendengus kesal karena aku sama sekali tak mengubrisnya. Di pikirnya dia bisa terus memerintahku se’enaknya apa

“ ku bilang untukmu “ ucapnya sedikit lebih tinggi, aku masih terus saja berkutat dengan buku yang kubaca , hingga aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, langsung saja kudongkakkan kepalaku menatap namja itu

“ sudah kubilangkan ini untukmu “aku hanya membuang napasku pelan melihat dia tersenyum sambil menempel sebotol capuccino dingin di pipiku, entahlah! kapan namja ini pergi membelinya . aku hanya menatapnya bingung lagi, untuk apa pergi susah-susah dan membuang uang untukku eoh? Ingin mengubah pendirianku lagi? Atau agar semua orang menganggapnya baik, seperti itu?

“sebagai tanda terima kasihku “ lanjutnya lagi, aku hanya terkekeh pelan, tanda terima kasih katanya, sok baik banget sih

“ aku tak butuh! Cukup kau menjaga rahasia dari surat itu sudah cukup bagiku, jadi kau berikan saja minuman itu pada yoeja-yoeja yang sudah menatapku dengan sinis “ kesabaranku sudah mulai hilang, di tambah lagi tatapan orang-orang yang sudah menatapku dengan tatapan tidak suka

“ ya  aku mengerti! Hai! Aku park jiyeon…………….” shit! Langsung  saja ku sorong meja di hadapanku dengan kasar, kulihat namja itu hanya tersenyum sambil menjulurkan seboto cappucino itu di tangannya, langsung saja kurampas cappucino itu dengan tatapan ingin membunuhku

“ awas kau! “ ucapku ketus, sebelum aku berjalan dengan cepat meninggalkan kelas dengan langkah kesalku

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

Aku melangkahkah kakiku dengan lemas, sudah lebih dari dua minggu berlalu, dan namja itu terus saja memerintahku se’enaknya. Mulai dari mengerjakan pr miliknya, menggantikannya piket, menemaninya ke mana saja,bahkan  menukar ulangan miliknya dengan punyaku saat menit-menit terakhir pokoknya semua yang harus di kerjakannya di sekolah selalu di berikannya padaku

“ sial” umpatku dengan lemas, kulangkahkan kakiku dengan gontai  kearah pintu  keluar sekolah. Ku acak rambutku dengan kasar saat melihat namja itu sudah berdiri dengan santai sambil sesekali menengok ke arah jam tanngan miliknya

“ apa yang di lakukannya  lagi sih? “ ucapku dengan kekesalan tingkah dewa. Kutarik napasku  dalam kemudian membuangnya kasar, tenang park jiyeon!cukup berjalan melewatinya, pura-pura tak melihatnya , dan besok jika ia marah karena kau tak menghiraukan teriakannya aku tinggal blang jika aku menggunakan headset. Dan setelah cukup jauh aku tinggal berlari agar dia tak bisa mengejarku.

Ku coba langkahkan kakiku kembali, cukup menjalankan rencanaku yang tadi, aku sudah berjalan mulai mendekat, hingga lirikan mataku bisa melihat aku mulai melewatinya, namun belum sempat aku berlari, tangan namja itu sudah menahanku terlebih dahulu, sial!

“ mau lari dariku eoh? “ucap namaj itu yang lagi-lagi di sertai senyum di wajahnya, entah kenapa namja itu selalu saja tersenyum, apa pipinya tak pegal apa.memang ku akui, senyum  namja itu manis, itu yang membuatku menyukainya dan membuatku melakukan hal gila dengan mengiriminya surat, baiklah lupakan! Hal itu  akan makin membuatku mengingat kejadian memalukan dua tahun yang lalu

“ oh ternyata kau? Ada apa? Lari darimu? Apa maksudmu?” tanyaku dengan senyum yang kubuat-buat, kulihat namja itu menatapku dengan tatapan curiga, dengan segera aku makin mengembangkan senyumku

“ awas kau coba lari “ ucapnya dengan tetap menatapku curiga, dengan cepat aku menganggukan kepalaku dengan masih memasang senyum yang kubat-buat

“ ayo pulang bersama!” aku hanya terus merutuki namja ini dalam hati, apa dia tak bisa membiarkan aku beristirahat walau hanya sebentar saja

“ aku ada janji………….”

“ batalkan “ belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, namaja itu sudah memotongnya terlebih dahulu, dasar tidak sopan. Aku tak habis pikir apa yang membuatku dulu menyukainya selain senyum manisnya itu. Aku hanya dapat menganggukan kepalaku lgi, jangan sampe dia membacakan surat itu di depan teman-teman sekelas seperti dulu

“kau yang mengendarainya! Boncengi aku yah “aku hanya melotot tak percaya, saat  mendengar apa yang di katakannya, tangan namja itu masih menunjuk salah satu sepeda yang sudh terpakir dengan baik tak jauh dari tempat kami  berdiri

“MWO? aku? Memboncengmu? Naik sepede itu? “ tanya sedikit tak percaya, yang benar saja

“ne! Kakiku sedangsakit, jadi aku membutuhkan batuanmu untuk mengayuhnya “ aku hanya kembali melotot, namja ini benar-benar kurang ngajar, sementara dia dengan santainya  mulai berjalan mendekati sepeda itu

“ kenapa harus sepeda? Kemana mobil milikmu? “

“ tadi aku meyuruh supirku untuk mengambilnya, dan membawakanku sepeda ini” gubrak! Namja ini benar-benar! Kenapa dia menukar mobil dengan sepeda sedangkan kakinya sedang sakit

“ yak! Bukannya kakimu ada sakit, terus kenapa menukarnya? “ teriakku sedikit kencang, kulihat namja itu sudah menutup kedua telinganya

“  karena aku mempunyai seseorang yang akan membantuku mengayuhnya “ aku kembali mengacak rambutku dengan kasar, namja ini benar-benar akan membuatku gila jika terus seperti ini. dengan pasrah aku melangkahkan kakiku menuju sepeda itu, kemudian mengayuh sepeda itu dengan minho yang sudah duduk manis di sadel belakang

“aku mengantarmu kemana? “ tanyaku sedikit kencang saat sepeda yang kami naiki sudah mulai melaju, melewati taman sekolah yang  sudah mulai sepi

“ jalan saja ! “ ucapnya santai. Aku kembali mendengus kesal, namja ini pasti sudah benar-benar gila!

“ yak! Jangan membuatku capek choi minho ! “ teriakku semakin kesal saja, dia memintaku mengayun sepeda tanpa tujuan yang jelas,

“ kau cerewet sekali! Diam dan mengayun sepedanya saja” . Aisss!!!! Namja  ini tak tahu apa dia berat? Dengan terpaksa ku ayunkan pedal sepedaitu  entah ke mana, jalan mendaki bahkan menurun sekalian. Hingga kurasa sebuah tangan besar memegang pinggangku saat sepeda ini menuruni sebuah jalan menurun yang curam

“ yak! Jangan memelukku! Dasar banci! Hanya penurunan seperti ini  kau takut? “ teriakku penuh emosi, namja seperti apa sebenarnya yang di bonceng oleh seorang yoeja bahkan saat penurunan seperti ini dia merasa takut, bukannya melepaskan tangannya , namja itu malah makin memelukku erat, sedikit lagi aku tak bisa bernapas di buatnya

“ yak! Kau ingin membunuhku? “   kurasa napasku yang mulai merasa sesak, hingga aku mulai terbatuk-batuk, apa dia berencana membuat kami berdua jatuh mendarat ke aspal begitu saja, di kiranya tangan kekarnya itu tak bisa membuatku terbunuh apa?  Namja itu tak menghiraukannya , bahkan saat kami sudah berjalan di jalan rata sekalipun, tangan kekar itu tak kunjung lepas dari pinggangku, entah kenapa membuatku sedikit salah tingkah, di tambah lagi saat kami melwati  jalur yang banyak di lewati orang-orang, semua yang meilihat kami pasti langsung berbisik-bisik, ada beberapa yang masih bisa kudengar dengan jelas, seperti ‘ ah memangnya sekarang gadis yang membonceng apa? Dasar anak muda’ ‘kau lihat gadis itu keren! Bisa membonceng namja setampan itu ‘ ‘ apa sekarang lagi ngetren yah  yoeja membonceng namja ‘ , bukannya malu entah kenapa aku malah tertawa, saat melihat bagaimana tingkah bodoh aku dan namja ini,bahkan saat kami lewat seluruh orang pasti memerhatikan kami

“  suasana yang indah “ ucap namja itu tak terlalu keras dengan senyum yang benar-benar manis saat kami mulai melintasi  jalan dekat sungai han, aku hanya tersenyum kecil saat mendengar namja itu, apa selama dua tahun di paris membuatnya serindu itu dengan tempat ini? kuhentikan sepeda yang kami tumpangi tepat pada salah satu taman berumput yang tak terlalu luas di pinggi sungai, membuat namja itu turun dan menatapku heran

“ aku ingin beristirahat sebentar! Tak apa-apa kan? Kita duduk di rumput itu saja bagaimana? Aku yakin kau pasti merindukan tempat ini “ aku mengembangkan senyumku, entah kemana emosi yang tadi sudah mengebu-ngebu, semuanya seperti hilang saat melihat namja itu tersenyum tulus seperti tadi

“baiklah! Kau kuizinkan “ ucapnya dengan masih tersenyum, di langkahkan kakinya kemudian mulai duduk tanpa alas di taman rumput dekat sungai itu, aku terkekeh pelan melihat tingkahnya yang sama sekali tak berubah, kemudian mulai melangkahkan kakiku untuk duduk tepat di sampingnya, cukup lama kami duduk di tempat itu tanpa bersuara sedikitpun, hingga minho mulai membuka percakapan

“ gomawo “ di miringkannya kepalanya untuk mentapku saat mengucapka itu, kulihat senyum manis dan tulus itu masih merekah di bibir namja itu, entah kenapa pipiku terasa panas, di tambah jarak kami  yang begitu dekat, entah tak terbiasa atau mungkin malu aku membuang tatapanku darinya

“ untuk apa ?” tanyaku sedikit pelan, mencoba menutupi rasa gugupku yang entah dari mana asalnya, kulirik namja itu, dia sudah berbring dengan bebas di atas rerumputan yang mungkin masih sembab itu

“ semuanya “ tangan namja itu terangkat, menggapai lenganku kemudian menariknya mengikuti arah tubuhnya, hingga membuatku ikut berbaring di atas rerumputan itu

“ aku rasa aku tak pernah membantumu “ ku dengar namja itu terkekeh pelan, memang benar apa yang kukatakan, semua yang kulakukan memang bukan berniat untuk membantunya, hanya sekedar untuk menutupi  hal memalukan seperti surat cinta itu

“untuk dua tahun yang lalu dan untuk saat ini “ aku hanya mengernyitkan dahiku, tak mengerti dengan arah percakapannya

“ sudahlah! Yang kulakukan hanya sekedar untuk surat cinta itu, aku bukan berniat untuk  membantumu “ ucapku jujur, kulihat namja itu hanya  tersenyum kecil memandang ke arahku

“ begitu ya? Tapi tetap saja! Gomawo “   ku rasa tubuhku kembali memanas, saat kurasa sapuan pelan dari atas pucuk kepalaku, namja itu sedang mengacak rambutku pelan, bukannya menolak aku malah tertunduk, entah perasaan ini terasa hangat, apa sepert ini yang kuharapkan dua tahun yang lalu ? kulrik namja itu, dia masih saja tersenyum hangat seperti itu, membutku benarr-benar seperti  akan bertambah gila, dengan cepat aku bangkit dari tidur, kemudian sedikit membersikan belakang seragamku yang mungkin kotor

“  sudah mau malam, eoma pasti mencariku! Ayo pulang “ ucapku beralasan, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika perasaan dua tahun yang lalu  akan muncul lagi, kulihat namja itu mengangguk, kemudian mengikutiku bangkit dari tanah yang berumput itu

“ baiklah, sekarang aku yang  akan memboncengmu “ ucapnya sedikit tertawa, aka hanya dapat ikut tersenyum, kemudian menganggukan kepalaku

“ seharusnya memang harus seperti itu bukan? “ entah kenapa tawa kecil kembali terukir di bibirku, membuat namja itu kembali tertawa dengan  sangat manisnya, membuat mataku untuk sejenak enggan berpaling darinya

“ yak kenapa melamun? Cepat naik! “ dengan segera aku menggelengkan kepalaku, mencoba menyadarkan diriku sendiri, dengan secepat kilat aku sudah menduduki sadel belakang, membuat namja itu mulai mengayunkan sepedanya

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

Minho POV

Aku menggulingkan badanku sana ke mari di atas kasur empuk milikku tanpa  tahu harus melakukan apa-apa, tak ada hal yang dapat kulakukan saat ini, hyung sedang pergi bersama kekasihnya, eoma pergi kerumah halmoeni, appa pasti masih di kantor. Padahal sekarang sudah jam 9 malam, terpaksa aku hanya baring-baring tak jelas seperti ini. kulangkahkan kakiku pelan menuju beranda kamarku,langit sedang gelap, dan angin malam ini bertiup cukup kencang, entah kenapa aku malah memikirkan gadis itu, park jiyeon!.  baik! Kalian pasti bertanya kenapa dulu aku menolaknya! Sama sekali tak ada kata penolakan dari mulutku, entah kenapa yoeja itu mengambil kesimpulan dari apa yang kulakukan, aku hanya membaca surat cinta itu terang-terangan di depan seluruh murid kelas kami dan itu membuatnya marah dan menganggapnya bahwa aku menolaknya, baiklah! Aku mengaku saat itu aku salah, tapi bahkan saat itu aku masih berusia 14 tahun! Ayolah! Bukankah itu usia untuk kita mengerjai yoeja yang kita sukai? Awalnya aku hanya berniat  untuk membacakannya di depan semua orang, dan menerima yoeja itu pula di depan semua orang itu, tapi entah kenapa sahabatku saat itu taemin! Menatapku dengan tajam,  tersirat dalam pikiranku bahwa namja itu menyukai park jiyeon, dan itu membuatku enggan untuk mengejar jiyeon yang sudah  berlari sambil menangis, air mata sudah jatuh menguyur di wajahnya, aku bodoh! Benar-benar bodoh, saat itu seharusnya aku mengejarnya dan mencoba menjelaskan semuanya, tapi kalian tahu? Aku malah diam membeku menatap taemin, padahal dengan jelas kutahu itu kesempatan terakhirku, karena kejadian itu terjadi saat kami upacara kelulusan, dan esoknya aku harus segera ke paris. Dua tahun tinggal di paris aku hidup penuh dengan penyesalan, harusnya aku tak melakukan hal bodoh seperti dua tahun lalu, tapi mau di bilang apa , penyesalan memang datangnya di belakang. Aku terus saja menyuruh appa untuk membawaku kebali ke korea walau SMA’ku pun belum kuselsaikan, tapi aku tak bisa bertahan lebih lama, aku akan benar-benar gila jika hidup di penuhi penyesalan seperti itu

Saat  aku kembali ke korea aku benar-benar kaget saat melihat sikapnya yang begitu dingin padaku, aku tahu itu pantas ku dapatkan sebagai bayaran apa yang telah kulakan padanya, karena aku tak harus melakukan apa lagi, terpaksa aku harus membuat surat cinta dua tahun lalu itu sebagai umpan, mungkin sekarang sedikit demi sedikit yoeja itu mulai kembali ingin membagi senyumnya. Kulirik handphone yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidurku, dengan cepat aku mengambilnya dan menghembungi gadis itu, daritadi menceritakannya membuatku merindukannya

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

Jiyeon POV

“ sekarang tinggal pr namja itu “ ucapku pelan saat aku sedang mengerjakan tugas yang di berikan hyun saem pada kelas kami, harusnya sekarang aku sudah selsai, tapi mengingat sekarang aku harus mengerjakan dua tugas dengan terpaksa aku harus lebih lama bertengker di kursi meja belajarku

Drrtt drrtt

Kulirik handphone yang bergetar tak jauh dari buku-buku pelajaran yang kubaca, aku hanya tertawa kecil membaca nama yang keluar dari handphone itu, dasar namja itu! Bahkan saat malam seperti ini pun dia masih saja mengangguku

“ yoboseyo!” ucapku santai dengan tangan yang masih terus melanjutkan aktiFitas menulisku di buku namja yang sedang menelponku ini

“ kau di mana ? “ tanya suara di sebrang sana, aku berhenti sejenak, kemudian senyum kecill entah kenapa mengembang di bibirku

“ di rumah! Waeyo? “ aku menarik sedikit napasku, agar suaraku masih bisa terdengar sedikit normal

“ cepat datang  di taman dengan kompleks rumahmu sekarang! Jika aku yang pertama datang di taman itu, aku akan membacakan surat ini besok. Dan satu lagi! Sekarang aku sudah dalam perjalanan,Anyoeng!” tuut,, tuutt,tuutt. Sial, padahal jantungku sempat berdetak tak karuan, tugas mengerjakan pr.nya saja belum kuselsaikan, sekarang dia menyuruhku ke taman kompleks, namja ini benar-benar se’enaknya. Dengan cepat aku mengambil jeket biru kesayanganku, langkahku makin bertambah besar saat aku dengan segera ingin  keluar dari kamar ini, namun belum sempat ,langkahku berhenti dengan sendirinya di depan sebuah cermin, kulihat  bayangan wajah serta tubuhku di cermin , aiss aku bahkan masih menggunakan piyama, jika harus berganti terlebih dulu bisa-bisa namja itu datang terlebih dahulu sebelum aku, ku ambil sebuah ikat rambut yang tergeletak di meja hias, dengan cepat aku mengikar rambut panjangku kemudian berlari keluar dari rumah ini, untung saja appa dan eoma sedang pergi, jadi aku tak perlu mencari alasan untuk keluar malam-malam seperti ini. aku sedikit menggosok-gosok keduan tanganku secara bersamaan, dinginnya angin mempu menembus jeket yag saat ini kukenakan,awas kau choi minho! Benar-benar tega membuat gadis sepertiku keluar malam-malam sendirian seperti ini, bahkan angin bertiup kencang, dasar tidak berperasaan!  Aku mengambil posisi duduk di salah satu bangku saat aku sudah samapi di taman kompleks yang di maksud, cukup lama aku menunggu, mungkin 15 menit. Hingga dapat kurasa ada sebuah tangan yang melingkar di leherku dari belakang, bukan memberontak karena takut itu orang jahat,aku malah diam, karena ku tahu pasti lengan ini milik namja itu, di tambah lagi bau khas parFume miliknya

“ ya choi minho! Kau membuatku menunggu lama” ku dengar ia hanya berdehem  menanggapi  perkataanku, lagi-lagi namja itu memelukku seperti sekarang, membuatku seperti tak benaFas kembali

“yak! Napasku sesak! jika aku pingsan akan kulaporkan sebagai percobaaan pembunuhn berencana “ucapku sedikit berteriak, namaj itu hanya mengumpat kecil yang tak jelas , ku rasa sekarang kepalanya sedang di tongkatkannya di bahuku dari arah belakang, napasku makin sesak saja di buatnya, bahka mungkin aku sudah membantu sekarang

“ kau berlebihan  park jiyeon” ucapnya pelan tepat di telingaku, lembut! Benar-benar terdengar lembut, aku nyaris meleleh di buat namja ini, jika terus seperti ini, aku benar-benar tak yakin akan terus membencinya, tapi bagaimana dengan surat itu

“minho lepaskan, aku benar-benar sulit bernapas! Beberapa hari yang lalu di sepeda, lalu sekarang! Apa kau benar-benar berniat membunuhku?”ku coba untuk mencari alasan, jika tidak dia benar-benar mendengar detak jantungku

“ sebentar saja! Jeball, biarkan seperti ini untuk sekarang, aku kedinginan “ aku kembali diam, tak banyak yang bisa ku’ucapkan. Dapat kupastikan mukaku pasti sudah sangat memerah untuk menahan malu, di tambah lagi namja yang memelukku dari belakang ini benar-benar terasa hangat. Tuhan! Kenapa aku berharap detak jantung yang kurasakan di punggungku sekarang bukan karena di kedinginan bukan? Entahlah! Mungkin karena begitu nyaman tanpa sadar aku  menyandarkan kepalaku di lengan namja itu, posisinya masih sama seperti tadi, dia memelukku dari belakang dengan posisi tangannya di kalungkan di leherku, untuk beberapa saat aku hanya diam di bangku yang sedang ku duduki, hingga aku tak mengingat apa-apa lagi, aku sudah terlelap di tempat itu, dengan pelukan yang kurasakan masih memelukku dengan erat dan hangat, atau mungkin aku memang hanya bermimpi

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

Aku melangkahkan kakiku pelan berjalan di koridor sekolah, sedikit takut-takut untuk memasuki kelas untuk berhadapan dengan minho. Aku terus berkata dalam hati jika perasaan dan pelukan yang di berikannya semalam hanya sebuah mimpi, tapi eoma dengan santainya bertanya seorang namja tampan yang mengantarkanku pulang, itu membuatku makin yakin jika semalam bukan mimpi. Aku menrik napasku pelan saat berdiri di depan  kelas , baru selangkah aku berjalan masuk, dapt kurasa seluruh tatapan yoeja-yoeja menatapku  entah kenapa. Di tambah lagi tawa-tawa namja yang ku tahu terarah padaku

“ hei park jiyeon! apa benar kau yang menulis surat cinta yang penuh cinta seperti itu? “ teriak seorang namja dengan tawanya, seketika seluruh kelas ikut tertawa bersamanya, kulirik minho yang hanya tertunduk lesu tak berani menatapku, sebenarnya ada apa?  Mataku nyaris saja keluar saat melihat kertas berwarna pink soFt  yang kutulis  untuk menembak seorang choi minho tertempel dengan rapi  di papan tulis kelas kami, air mataku nyaris saja keluar, langsung kubuang tatapanku ke arah namja yang harusnya memgang surat cinta itu, kulihat namja itu masih tertunduk, dapat kulihat wajahnya penuh dengan penyesalan, aku mengerti, pasti surat itu tak sengaja  di dapat oleh salah satu teman sekelas kami

“ kau tak ingin memjawabnya choi minho? Sekarang park jiyeon sudah berada  di sini. Kau tak mungkin membiarkan surat cinta seromantis itu tanpa adanya  jawaban darimu bukan?kau menerimanya atau tidak “ teriak seorang siswa lagi, aku hanya dapat kembali menatap ke arah minho, entah kenapa aku malah tertarik untuk mendengar apa yang akan di ucapkannya, untuk sesaat aku melupakan tentang surat cinta yang sudah tertempel itu. Kulihat namja itu berdiri dari duduknya, di tatapnya semua orang kemudian tatapannya berhenti tetapa di arahku, aku makin menelan saliFaku,harap-harap cemas dengan apa yang akan di ucapkannya

“ pabbo! Surat itu di tulis jiyeon  saat kami masih smp,!bukannnya semuanya sudah berlalu?, bahkan aku tak yakin perasaannya sekarang masih sama dengan apa yang di tulisnya di surat itu “ pabbo! Aku benar-benar pabbo! Sebenarnya apa yang kucoba harapkan, kakiku melemas, sontak  saja tubuhku ambruk di lantai, kulihat semua orang yang berada   di ruangan itu menatapku dengan kaget, aku tak memperdulikannya, bahkan air mataku sudah mengalir dengan deras

“ mianhe! Sepertinya perutku sedikit sakit, aku pergi dulu “ dengan segera aku berdiri , kutatap minho sesaat, kulihat ia juga mentapku dengan wajah tak percaya, aku tak memperdulikannya, dengan segera kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu, ku angkat tanganku untuk menghapus air mataku dengan kasar. Choi minho! Kenapa kau melakukan hal yang sama seperti dulu padaku, sakit! Bahkan lebih sakit dari dua tahun yang lalu. Aku tahu kau tak sengaja  memperlihatkannya, tapi jawaban yang keluar dari mulutnya itu benar-benar seperti mengiris hatiku, appo!

^_^,^_^,^_^,^_^,^_^

Sudah seminggu semenjak kejadian itu, empat hari aku bolos sekolah hanya untuk menata kembali hatiku, dan tiga hari yang lalu aku mulai memberanikan diriku lagi untuk datang ke sekolah. Semua siswa sudah tidak ada lagi yang mempermasalahkannya, semuanya sudah bersikap seperti biasanya. Sekarang aku sedang melakukan piket di kelas hanya dengan seorang diri, aku memang sudah menata hatiku kembali, tapi kalian tahu, dengan pasti masih dapat kurasa dengan jelas rasa perih di hati ini saat melihat namja itu,  bahkan mungkin ini tak seberapa dengan apa yang kurasakan dua tahun lalu. Saat itu dia menolakku dan pergi ke paris, itu sedikit membantuku untuk bisa melupakannya. Tapi bagaimana dengan sekarang? Aku bisa melihat dengan jelas senyum terpampang di wajahnya, bagaimana bisa aku melupakannya seperti dua tahun lalu jika aku terus saja berada satu kelas dengannya?

Kutarik napasku pelan, mataku menatap setiap tulisan yang di tulis saem tadi di papan tulis, hingga kuputuskan untuk mengambil penghapus untuk menghapusnya. Kakiku  melompat naik turun untuk berusaha menggapai ujung papan tulis, mungkin sekarang aku terlihat aneh melompat-lompat tak jelas sendirian di kelas, kakiku terhenti  mukaku pucat dengan seketika saat kurasa dada bidang seseorang  seperti memelukku dari belakang, tangan orang itu terangkat mengambil ahli penghapus di tanganku kemudian mulai menggantikanku menghapus tulisan yang dari tadi tak bisa kugapai

“ seharusnya kau meminta tolong seseorang jika memang tak bisa menggapainya “ aku menelan salivaku sengan badan yang masih membeku, suara bariton itu, bau parFume ini, dan sebuah lengan yang terjulur dari arah belakangku , bisa kuyakini tanpa harus melihatpun ini pasti naja yang membuat hidupku menderita seperti sekarang, seseorang yang bisa membuatku merasakan rasanya patah hati. Kuputar kepalaku yang tersasa kaku untuk menengok ke arah belakang, badanku kembali melemas saat melihat namja itu sedang menunduk  menatap ke arahku, ingi rasanya aku menangis, sungguh! Aku merindukan senyum namja ini dari dekat seperti ni. Tapi mau di apa lagi, aku tak bisa ! walaupun aku berusaha melompat tinggi seperti menghapus papan tadi aku itu tak akan bisa untuk menggapainya, dia terlalu tinggi untuk di gapai oleh yoeja sepertiku. Kutarik napasku panjang, kemudian mulai mengumpulkan seluruh kesadaranku

“ kau bisa menjauh dariku ? “ tanyaku tajam sambil mentapnya tajam, kulihat ia menatapku heran seperti tak percaya, namun beberapa detik kemudian ia mulai melepas tangnnya ari arah papan tulis dan mulai menjauhkan tubuhnya diriku,

“ main “ kulihat ia tersenyum kecil ke arahku,yang hanya bisa ku tanggapi dengan gelenggan kepalaku, mencoba membuat diriku untuk tetap sadar. Kumohon! Jangan ber’ekspresi seperti itu, tanpa menjawab pertanyaannya lagi, segara kulangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkannya, namu tangannya  sudah mengenggam pergelangnku erat hingga aku tak bisa melangkah lebih jauh

“ lepaskan tanganku “ ucapku pelan tanpa berbalik ke arahnya, aku sudah menunduk, merasakan air mataku sepertinya ingin tumpah, walaupun dia mengenggam tanganku dengan erat tapi kenapa terasa lembut

“ mianhe “ aku tak menjawabnya , masih terus terpaku sepert itu, aku tahu sekarang air mataku sudah mengalir, dapat kurasakan ddadaku tersa begitu sesak, tak dapat kupungkiri, aku benar-benar menginginkan namja ini

“semuanya tak seperti yang kau Fikirkan jiyeon, mereka tak sengaja mendapat surat itu dari tas milikku. Sunggu! Aku tak pernah berniat lagi untuk melakukan hal seperti itu “ parau! Suara itu terdengar parau, air mataku makin mengalir dengan deras di wajahku, dapat kurasa rasa sakit yang mendalam dari suara itu, kumohon! Aku yang menyukaimu seharusnya aku saja yang merasakan sakit seperti ini, seharusnya aku tak membuat orang yang kucintai merasa sakit yang mendalam seperti yang kurasan

“ aku sudah tahu” lirihku pelan! Memang benar, dari awal memang aku mempercayainya. Aku sudah tahu dengan pasti pasti surat itu tak sengaja terlihat.kau tahu choi minho? Aku sedang berusaha melupakanmu! Apa kau Fikir  aku tak merasa sakit saat bersama denganmu tapi kau sama sekali tak merasakan  rasa cinta yang tulus sepertiku, bahkan ejekan teman waktu itu tak ada apa-apanya dengan  itu semua. Kurasakan tangan ini di tarik dengan pelan , hingga tubuhku ikut terbawa tarikan dan dengan spontan  tubuhku sudah menghadap ke arahnya. Dapat kulihat mata itu berkaca-kaca, mukanya memasang ekspresi tak mengerti, mungkin dia merasa bingung dengan apa yang kukatakan

“terus kenapa kau bersikap seperti ini padaku?  Kenapa kau masih meneteskan air mata? Apa aku melakukan sebuah kesalah lagi? “ dapat kurasa kedua tangannya memegang wajahku dengan lembut, tangan ini terasa hangat. Aku sama sekali tak menjawabnya, sungguh, aku sudah tak bisa mengontrol tangisanku

“hei park jiyeon jawab aku…. “tangan namja itu di angkatnya,kemudian  turun ke bahuku , walau seperti itu aku masih belum menjawab apa-apa, bahka satu katapun sulit untuk terucap di bibirku saat ini

“ kubilang jawab aku…… “ ucap namja itu dengan nada yang lebih tinggi dari tadi, tangannya masih saja terus mencengkram erat bahuku mungkin mencoba menguatkanku

“ karena aku mencintaimu! Karena aku sangat mencintaimu choi minho, karena kau begitu berarti bagiku,,,,,,,,,,,,,,,,” aku menarik naFasku sesaat sebelum melanjutkan  kata-kataku, kulihat namja itu membelakkan matanya , saking tidak sukanya kah?

“ kau tahu minho? Di dada ini terasa  sakit, apa kau tahu? Saat kau  menolakku begitu saja, apa kau tak berFikir bagaimana dengan perasaanku? Apa kau tidak mau tahu dengan apa yang kurasakan? Apa kau tak tahu aku samapai ingin gila hanya karena mencintaimu …………..hosh..hosh “ucapanku kembali terpotong karena  tangan yang mencengkram bahuku tadi sudah mulai mengguncangkan tubuhku pelan, mungkin namja ini membantu membuatku sadar karena sekarang aku benar-benar hilang kendali

“ dengarkan aku! Ku bilang dengarkan aku “kudengar namja itu mulai berkata sesuatu padaku, entahlah aku terlalu mendengarnya, otakku terlalu pusing, penuh dengang rasa sakitku

“hei kubilang dengarkan “ badanku kembali berguncang dengan pelan, pasti namja itu sedang mengguncangkan bahuku lagi

“ apa kau pernah mendengar kata penolakan dariku eoh? Apa ku pernah berkata aku tak menyukaimu park jiyeo? Apa aku pernah berkata perasaanku tak sama sepertimu ?”aku hanya diam, aku memang sama sekali tak pernah mendengar sebuah kata penolakan langsung, bahkan aku tak pernah mendengarnya berkata tak menyukaiku, tapi,tapi

“ jawab aku!” aku hanya menggeleng pelan, benar! Aku tak bisa mengingat sebuah kata penolakan keluar dari mulutnya, dapat kurasakan cengkramannya pada bahuku mulai melemah, bahkan secara perlah namja itu melepaskannya

“terus kenapa kau se’enaknya beranggapan jika aku tak menyukaimu?” suara namja itu kembali normal, tatapan namja itu menatap lurus ke arahku, aku hanya terdiam, dengan air mata yang sudah mulai terhenti sedikit demi sedikit

“ dengarkan aku! Aku menyukaimu! Bahkan saat aku menerima untuk pertama kalinya surat yang  kau tulis untukku itu, aku menyukaimu  dua tahun yang lalu  hingga sekarang, aku tahu dulu aku melakukan kesalahan yang bodoh, tapi kau tahu? Sahabatku menyukaimu, itu membuatku tak bisa mengejarmu saat itu. Aku memang bodoh, seharusnya aku tak melakukan hal seperti itu, maka dari itu aku pulang kembali ke korea  karena aku terus merasa menyesal  saat di paris, aku menyesal karena aku menyia-nyiakanmu saat itu, aku menyesal karena tak menjadikanmu milikku. Jadi dengarkan aku, park jiyeon! aku mencintaimu “ aku hanya kembaali membeku, sekarang aku pasti bermimpi, kulihat namja itu tersenyum, kedua tangannya kembali terangkat memegang wajahku, dapat kulihat dengan jelas sedikit demi sedikit namja itu memajukan wajahnya, sontak saja aku langsung menutup mataku

Brruuuukkkkk

Aku terbelak kaget, dengan cepat kubuka mataku dengan lebar, kulihat minho juga sudah membuka matanya dengan lebar, sontak saja aku dan  dia menongok ke arah kanan tempat timbulnya suara, aku makin membulatkan mataku  hingga seperti ingin keluar dari kelopaknya, tanganku menutup mulutku  saking tak percayanya dengan apa yang kulihat, kalian tahu?  Di sana  seluruh teman sekelas sedang jatuh  kelantai entahlah kenapa, mereka masih sibuk  memegangi bagian tubuh mereka yang mungkin terasa sakit,  tanpa sadar bahwa aku dan minho sedang melihat ke arah mereka

“ sudah kubilan jangan di dorong-dorong! Robohkan jadinya “ kudengar tmanku yang bernama  kai itu sudah memarahi teman-temann sekelas yang lain, mungki mereka belum menyadari kehadiran kami, hingga beberapa detik kemudian mereka mengangkat wajahnya ke arah aku dan minho dengan senyum-senyum tak jelas

“lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii………. “ ucap merka bersamaan, denga cepat mereka berlari terbirit-birit seperti di kejar satpam sekolah jika kami memanjak tembok saat  terlambat, aku sempat menatap ke arah minho sebentar kemudian tanpa ber’babibu aku langsung mengingat sesuatu, langsung saja aku berlari mengejar seluruh teman sekelasku yang sudah berlari lumayan jauh

“ yak! Kalian mengintip kami? “ teriakku sambil terus berlari mengejar mereka, dapat kudengar semuanya seketika langsung tertawa

“ mian” teriak merka lagi, aku langsung menggepalkan tanganku emosi,

“ awas kalian nanti “kudengar mereka masih saja terus tertawa, membuatku makin geram saja, aiiisshh!!  Kenapa  aku harus sekelas dengan  murid-murid kurang ngajar seperti mereka

“maaFkan kami, oh ya! Tadi itu tontonan yang menarik lo! “aku langsung memberhentikan langkahku saat mendengar teriakan hyun  woo sampai di telingaku, dengan cepat aku membuka sebelah sepatu milikku kemudian kulemparkan kearah mereka,

“ aku akan membunuh kalian semua “   teriakku yang semakin kesal sja, ku acak rambutku kasar, tak terima dengan perlakuan para orang gila itu

“kenapa susah-susah mengejar? Bukannya  mereka sudah melihatnya, jadi biarkan saja “ aku langsung memberhentikn aksi menyiksa rambutku sendiri saat mendengar seseorang berbicara denganku, tanpa bisa melihatnya terlebih dahulu sebuah tangan sudah menarikku hingga mendekat ke arahnya,

“sstttt!!! Yang ini hanya rahasia kita berdua”mataku melebar kembali saat melihat seorang cho minho yang sedang memelukku dari dekat sebuah senyum di wajahnya, entahlah! Aku tak bisa mengingat apa-apa! yang kutahu sesuatu yang basah mendarat dengan sempurna di bibirku, hampir saja aku berteriak dengan perlakuan namja itu yang tiba-tiba, kenapa aku melupakan satu orang gila ini?

END

Bagaimana? Sekali lagi aku minta maap jika momentnya benar-benar kacau balau. Sumpah! Aku sama sekali tak berpengalaman, berhubung author sendiri masih berumur 14 tahun, mungkin masih terlalu muda untuk mengetahui lebih dari apa yang kuceritakan, jadi please untuk sekali lagi, aku membutuhkan commen yang atau kritikan dengan bahasa yang membangun

Advertisements

31 thoughts on “My Love Letter 2 Years Ago

  1. Wahhh debak.. Chigu… Aq suka walaupun awal” aq agak bingung…
    Tapi pas akhir lucu….
    🙂
    Nak” kelas na jiyi ma minhoo lucu…
    Tapii agak ssebel sama minhooo di sifat na masa lalu..
    Heeee….

    Dii tunggu ff minji laen na 🙂

  2. bagus thor, q jg uda pernah baca kok komiknya. q suka deh alur yang terinspirasi dari komik pasti karakter cowoknya wowww. Ditunggu ya ff daebak lainya, author fighting!!

  3. Sukaaaa…. Walaupun awalny rada kasian juga sih sama jiyeon gegara di permalukan di depan bnyk org… Tapi senenggggg akhirnya MINJI bersatu juga deh ^^

    Nice story author 🙂

  4. itu temen JIYI ama EMIN lucu bgt ya ngintip-ngintip haha XD

    ceritanya aku suka! kirain EMIN bener-bener jahat ama JIYI semenjak insiden 2 tahun lalu! ternyata eh ternyata, EMIN sebenernya..
    Bwahahaha
    like it -3-

  5. keren abis senyum sendiri baca surat cinta terus dibawa b=nangis gara2 dirolak dibawa bt gara2 dimanfaatin minho lanjut dibawa nangis+kesel+nyesek gara2 insiden di kelas dilanjut senyum gara2 mereka be a couple diakhiri ngakak ngebayangin kelakukan kai and the gank aka temen2 sekelasnya, ujung2a melting ama paragraf akhir,. OMG DAEBAK kayaknya ahli dah bikin sad story :p

    CUMAAAAAAAANN tulisannya musti dirapiin lagi EYD nya banyak yang ga keedit ^^

  6. hahahaha endingnya sukaaa!!!
    aigooo minho benar2 iseng banget hanya demi merebut perhatian jiyeon kembali.. tapi bukan hanya jiyeon namun juga rasa penasaran anak2 skelas yang mengintip minji,,, kkk~ ngakak
    jiyeon pabo~ i luv this :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s