THE END OF OUR STORY

Gambar

Title : The End Of Our Story

Cast :

  • Park Jiyeon T-ara
  • Choi Minho
  • Kim Myungsoo

Author : @aiva_18

Length : Ficlet/oneshoot

Genre : sad, angst

Ratting : cocok untuk semua umur.

Cover : alovedmeyoong ART

Note :  WARNING TYPO!!!!!! FF pertama setelah hiatus lama bangetttttt,,,,

Oke nggak tau mau ngomong apa jadi happy reading aja ya.. ^_^

***

Menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit yang entah sejak kapan telah menumpahkan isinya kebumi.

“apa kau juga merasakannya, eoh? Apa sakitnya sama sepertiku? Atau kau hanya ingin menemaniku menangis?” tanyaku beruntun pada langit, yang kutahu dan kalian semua tahu ia takkan pernah menjawabnya.

Sakit, sangat sakit disini, didadaku. Kenapa harus aku? Kenapa harus kau? Kenapa harus kita?.

 

 

 

Memeluk kedua lutukku, menenggelamkan kepalaku diantaranya. Sesekali meringis menahan sakit  saat kerikil kecil mengenai badanku bahkan tomat dan telur busuk tak luput dari lemparan anak-anak nakal yang membenciku.

Memangnya apa yang salah denganku? Itu appaku! Dia yang berkelahi, dia yang berjudi, dia yang mabuk-mabukkan, dia yang mencuri, dia yang membunuh eomma, maka dari itu yang dipenjara. Kenapa kalian masih saja mengahakimiku? Bukankah aku sudah kehilangan semuanya? Bahkan tak lama lagi aku akan kehilangan appa yang akan dijatuhi hukuman mati. Apa itu tak cukup eoh? Apa kalian juga ingin mengambil nyawaku sehingga hanya tubuh hina yang tak bias berbuat apa-apa ini tersisa.

 

 

“hiks,,hiks,,hiks,,” air mata yang sempat kutahan kini jatuh tak terbendung, membentuk aliran sungai kecil dikedua pipi tirusku. “e,eomma,, appo, neomu appo,” gumamku disela tangisku.

 

Tapi, apa? Kemana hati nurani mereka? Aku sudah menangis? Aku sudah sangat merasakan sakit? Lalu kenapa mereka masih saja melakukan ini padaku? Kenapa mereka hanya tertawa disaat aku snagat merasakan sakit?

 

 

 

“hey,, pergilah anak penjahat, appamu jahat dan kau juga jahat, kami tak ingin berteman denganmu”

 

“ya, seharusnya kau juga ikut dihukum bersama appamu yang jahat itu bukan disini”

 

“cih,, tak kusangka, aku sempat berteman dengan anak pembunuh sepertimu”

 

 

Tak puas dengan melemparku, mereka mencaci makiku, menghinaku. Oh Tuhan, ini sangat menyakitkan, kenapa kau biarkan aku sendiri melewati ini? Kenapa kau tak memabawaku ikut bersama eomma? Aku takut Tuhan, eomma! Hiks,, aku semakin memperat pelukanku pada kedua lututku.

 

 

 

“hey,, apa yang kalian lakukan? HENTIKAN!”

 

 

Terasa olehku, tangan seseorang mellingkar ditibuhku, melindungiku dari hujaman lemparan anak-anak nakal itu. Ia seorang namja. Berteriak, memyuruh anak-aqnak itu berhenti.

 

 

“hey, siapa kau? Jangan menghalangi kami!”

 

“ya. Asal kau tahu, dia itu anak seorang pembunuh, lebih baik kau jangan dekat-dekat dengannya”

 

 

“pindahlah dari situ, jangan menjadi pahlawan kesiangan”

 

 

“kalau kau tak pindah kau juga akan terkena lemparan kami, apa kau mau itu?”

 

“Tolong hentikan! Kenapa kalian menyakitinya dengan alas an konyol seperti itu. Yang membunuh itu appanya, BUKAN DIA” ia membentak, membuat semua anak-anak itu diam, aku mendongakkan kepalaku menatapnya dengan pandangan kaget.

 

Lelaki yang seumuran denganku, tengah membelakingiku, kedua tangannya terkepal dikedua sisis badannya. ‘apa ia malaikat yang Tuhan kirim untukku?’ batinku.

 

Terdengar olehku umpattan-umpattan kesal yang dikirimakan anak-anak itu untukku dan juga malaikta penolongku itu setelah mereka berbalik meninggalkan kami berdua.

 

“kau tak apa?” aku hanya mengangguk saat anak itu berbalik dan berlutut mensejajarkan badannya denganku yang terduduk masih dengan memeluk kedua lututku.

 

 

“Minho, Choi Minho, itu namaku” ia menjulurkan tangannya, aku hanya menatapnya bingung. Hey, bagaimana bisa ia mau berkenalan denganku.

 

 

“Park Jiyeon” ia kembali menarik uluran tangannya yangtak mendapatrespon dariku, ia tampan malu, terlihat saat ia mengusap tengkuknya kikuk.

 

 

“kajja, kau tak punya rumah lagi, bukan?” aku mengangguk dengan dahi sedikit berkerut mendengar kata ‘kajja’. Memangnya ia ingin mengajakku kemana?.

 

 

“aku mengajakmu tinggal bersamaku dan nenekku, ia mnyuruhku untuk menolongmu disini dan juga mengajakmu untuk tinggal bersama kami, Choi Hyo Ri, kau mengenalnya bukan?”

 

 

“ne, ia teman nenekku” jawabku pelan

 

 

“kalau begitu, ayo” ia menarik pelan tanganku.

 

“aww..” ringisku, saat mencoba berdiri.

 

“kenapa?” aku melihat kearah Minho, lalu mengalihkan pandanganku pada kakiku begitupun Minho, ia juga memnadang kearah kakiku. Pantas saja sakit, kakiku berdarah, sepertinya terkena kerikil tajam dari lemparan tadi.

 

“naiklah, aku akan menggendongmu sampai rumah” Minho belutut membelakangiku, aku melihat punggungnya, sebelum mengangguk mengiyakan perintahnya.

 

Dan semenjak itulah aku tinggal bersama Minho dan Choi halmoni.

 

***

 

3 tahun telah berlalu semenjak kejadian pahit dalam hidupku itu. Kini tak ada lagi seorang Park Jiyeon dengan latar belakang keluarga yang hancur, ayah seorang pembunuh, dan ibu yang baik-baik harus mati mengenaskan ditangan ayahnya sendiri, dan dirinya yang bahkan dibenci oleh teman sepermainannya sendiri. Tidak, sekarang yang ada hanya Choi Jiyeon, remaja manis yang ramah, cucu dari nenek yang berkehidupan sederhana, Choi Hyo Ri, dan adik dari seorang Choi Minho. Ya, yang ada hanya aku. Choi Jiyeon.

 

Kami hidup dengan rukun, walau ini menginjak setahun kepergian halmoni, tapi kami masih baik-baik saja. Minho oppa, ia bekerja paruh waktu dibeberapa tempat setelah pulang dari bersekolah, dan pekerjaan itu menyebabkan ia selalu pulang malam. Setiap malam aku selalu menunggu oppa pulang dari bekerja, menyambutnya dengan wajah penuh senyuman. Aku hanya tak ingin oppa melihatku sedih walau aku mempunyai masalah, menurutku itu sama saja kalau aku menambah beban hidupnya. Lagipula, aku pernah berjanji pada oppa dan halmoni, bahwa aku akan menjadi yeoja tegar sama seperti eommaku.

 

Uri oppa, selalu bekerja keras demi aku, ia selalu saja menuruti perintahku, selalu menjadi sosok yang lembut padaku, berbeda sekali dengan diluar sana. Ia akan menjadi ice prince, hanya berbicara seperlunya saja,tersneyum hanya pada orang yang ia kenal, bahkan tak jarang ia menatap sinis orang-orang yang takia kenal. Hufftt,,ini semua karena Myungsoo oppa, dia adalah ice prince pertama disekolah kami, ia bersahabat dengan Minho oppa, dan pasti ia merubah oppaku jadi sedingin itu.

 

“oppa, kau sudah pulang” seruku saat kulihat Minho oppa memasuki ruang keluarga rumah ini. Ia tersenyum membalas ucapanku lalu masuk kedalam kamarnya.

 

Tes, tes, tes, air mataku mulai menetes satu persatu. Tidak. Aku tidak sedih karena sikapnya padaku itu. Bukan itu, aku sedih karena akutau oppa lelah, ia terlalu lelah bekrja hanya karena ku. “oppa mianhae” gumamku.

 

***

Waktu berlalu terasa cepat olehku, hingga tanpa sadar perasaan yang tak seharusnya ada itu semakin membesar, membuatku kewalahan menghadapi diriku yang terkadang tak bisa terkontrol saat bersamanya. Aku mencintainya. Aku mencintai oppaku. Lalu, apa ada yang salah dengan itu? Tidak. Tak ada yang salah dengan itu karena nyatanya, kami bukan saudara. Kami tak mempunyai hubungan darah.

 

Tapi, kenapa? Kenapa saat aku berkata padanya aku mencintainya, ia hanya membalas dengan kalimat yang selalu sama, “ya, aku tahu itu, aku juga mencintaimu…….sebagai adikku”. Oppa tahukah kau? Aku mencintaimu bukan sebagai adik tapi sebgai yeoja ke namja, ya perasaan semacam itu yang aku miliki.

 

“hey, kau melamun? Kau tak mendengar semua perkataanku?” suara baritone khas oppaku terdengar ditelingaku,membuatku tersadar akan lamunan menyakitkan.

 

“ahh, mianhae oppa, memangnya tadi kau berkata oppa?”

 

“baiklah, kau kuamaafkan kali ini, karena suasana hatiku sedang baik, jadi aku menceritakan dari awal, dank au tak boleh melamun lagi, kau harus dengarkan dengan baik-baik. Arrachi?” aku mengangguk pelan,

“jadi, begini, mm, apa kau kenal dengan Sulli, Choi Sulli, anak kelas 11 B,?” tanyanya,aku sedikit mengerutkan keningku. Choi Sulli? Ahh aku mengenalnya. Aku kembali mengangguk.

 

“kau tahu? Kurasa aku menyu,, anni, tapi aku mencintainya, ia yeoja baik, manis, cantik dan juga pintar,” ia tersenyum, menerawang jauh tentang yeoja itu.

 

Darahku berdesir hebat, jantungku seakan berhenti berdetak, tangannku saling bertautan dengan getaran yang mulai terasa diseluruh tubuhku.

 

“oppa mencintainya?”

 

“ya, sangat. Dan kau tahu yang lebih mengejutkan lagi, aku dan dia sudah resmi pacaran,,, ommo,, aku tak percaya ia bias menerimaku saat menyatakn cinta padanya”

“oppa, sudah resmi dengannya?” ia mengangguk, dan brukk,, aku jatuh dari langit ke-7. Kini tak ada lagi harapan yang tersisa untukku. Kenapa? Kenapa oppa mencintainya? Kenapa harus dia? Kenapa tidak aku?

 

“wae, Jiyeon~ah? Kau tak menyukainya?”

 

“lalu, kalau aku tak menyikainya, memangnya oppa akan mendengarkanku?”

“mwo?”

 

“anniya, oppa. Aku tak mengatakan apa-apa. Chukkae atas hubunganmu” aku tersenyum padanya.

 

“kau kenapa Jiyeon~ah? Ayo katakana pada oppa”

 

“aku hanya marah pada oppa, oppa tidak pernah menceritakan padaqku kalau opa menyukai seseorang, oppa hanya bilang setelah oppa sudah resmi padanya, dan aku tak suka itu”

 

“mianhae, oppa hanya ingin membuat kejutan padamu”

 

“gwencana, oppa, tapi jangan lakukan seperti itu lagi,”

 

“ne, oppa janji akan lebih terbuka lagi padamu”

 

***

Kini aku kembali merasakan sakit itu. Bahkan ini lebih sakit dibanding kejadian 10 tahun lalu, kenangan buruk dalam hidupku yang sudah berhasil kukubur dalam-dalam di memory otakku.

Sakit, saat daintara kita hanya ada kata ‘adik’ dan ‘kakak’. Sakit, saat ia melihat kearah wanita lain. Sakit, saat tahu bahwa ia bukan milikku seorang lagi. Sakit, saat ia tertawa dengan bebasnya pada wanita lain. Sakit, saat waktunya untukku semakin berkurang. Sakit, saat aku hanya bisa tersenyum miris padanya.

 

“Jiyeon~ah” seseorang yang sangat kukenali suaranya berteriak memanggil namaku dengan girangnya. Aku berbalik melihatnya sekilas lalu kembali mengalihkan padanganku pada view diberanda kamarku.

 

“key, kau harus mendengar ceritaku. Kau tahu, tadi aku,,,,,,,,,tadi aku berhasil merebut first kissnya, tak kusangka aku menjadi yang pertama.” Dengan sangat, sangat, sangat teganyaia mengucapkan kalimat terkutuk itu. Hey,, apa kau tak sadar aku disini sudah seperti mayat hidup hanya karena memikirkan perasaanku padamu oppa.

Terasa olehku mataku memanas, mengabur karena air mata yang sudah menumpuk siap untuk dikeluarkan, tanganku meremas kaos biruku dengan sangat kuatnya menahan perasaan marah, kecewa, dan sedihku.

 

“hey, ada apa dengan ekspresi itu Jiyeon~ah? Apa kau sakit?”

 

“sakit? Cih,, apa kau sebodoh ini oppa? Kenapa kau sama sekali tak peka, eoh? Apa kau tahu disini oppa, dihatiku, itu sakit oppa, sangat sakit, dan kau tahu karena apa? Itu karena kau! Kau lelaki bodoh yang secara terang-terangan telah mengukapkan isi hatimu terhadap wanita lain didepanku didepan orang yang selama ini mencintaimu secara tulus, wanita yang melihatmu sebagaiseorang pria bukan saudara. Apa kau benar-benar tak tahu oppa?” air mataku sudah membasahi pipiku. Hanya bias mnegelapnya kasar, namu aku sadar itu sia-sia, karena air mata itu terus saja keluar. Memandangi wajahnya dengan mata belonya yang semakin membulat setelah mendengat ucapanku. Ia hanya diam, tak member respon padakku kecuali wajah kagetnya itu. Apa sebegitu tidak mungkinnya aku memiliki perasaan seperti ini padanya?.

 

“wae, oppa? Ada apa dengan ekspresi itu, oppa~ah?” aku bertanya dengan kalimat dan pengucapan yang sama sepertinya.

 

Ia menatapku tajam, aku membalas tatapannya.

 

“anniya, Jiyeon~ah. Itu tidak benar buka?  tidak mungkin kau memliki perasaan seperti itu pada oppamu.” Ucapnya mengelak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mwoya? Sadarlah Minho~ah, kau bukan oppaku, kita sama sekali tak mempunyai hubungan darah. Bagaimana mungkin kau menganggapku sebagai adikmu sendiri.” Aku melangkah mendekatinya yang masih trlihat shock. Perlahan aku berjinjit menyamai tinggiku dengannya. Mendekatkan kepalaku kepadanya, menutup mataku, hingga terasa olehku bibirku menyentuh permukaan bibir tebalnya. Ya aku menciumnya.

 

Aku terus menikmati bibirnya yang terasa manis dibibirku, sampai sesuatu terasa bergetar dan mencengkram kuat tanganku, membuat mataku yang semula tertutup rapat kini terbuka. Dan semakin terbuka lebar saat dengan jelas kulihat air mata jatuh dari sudut matanya.

 

Dan yang kulakukan adalah menarik tubuhku menjauhinya, air mata itu semakin deras keluar mataku. Bodoh, apa yang kulakukan? Aku membuatnya menangis.

 

“mian, mianhae, mianhaeyo oppa” aku berlari menjauh darinya tanpa ada arah dan tujuan. Hanya berlari menghindari rasa sakit yang semakin terasa menusuk. “bodoh, bodoh, bodoh” tak berhenti mengumpatkan kata itu untuk diriku. Terus berlari tanpa mempedulikan oran-orang disekitarku yang terkadang menggerutu dan mengomelku karena menambrak mereka yang sedang berjalan.

 

Ckiiiiitttt,,, bunyi nyaring itu menghentikan langkahku, membuat perhatianku tertuju pada orang yang membuat bunyi itu.

 

“apa yang kau lakukan disitu?  Setidaknya kalau kau ingin mati, jangan didepan mobilku. Aku tak ingin masuk penjara hanya karena dituduh telah membunuh yeoja cantik bodoh sepertimu.”

 

“oppa? Myungsoo oppa?”

 

 

 

 

Dan sejak saat itulah, aku memilih tinggal di apartemen Myungsoo oppa, dan tak pernah menginjakkan kakiku disekolah lagi. Beruntung, karena Myungsoo oppa tak pernah memaksakku untuk masuk sekolah atau kembali tinggal pada Minho~ssi. Ya, kuputuskan untuk menghapus memoriku tentang dirinya. Membiarkannya menjadi orang asing dalam hidup dimasa laluku. Membiarkan masa depanku tak pernah akan mengenal namja yang telah membuatku merasakan perasaan ‘aneh’ saat berada didekatnya.

Biarkan seperti ini. Biarkan aku melupakan sosok itu. Biarkan diriku yang sangat menyedihkan tak lagi ingat soal sosok itu. Biarkan aku berusaha untuk menghapusnya dalam hidupku. Biarkan aku berusaha untuk membuang rasa ‘aneh’ itu jauh. Biar, biarkan seperti ini Tuhan.

“apa kau akan seperti ini terus?” suara khas itu terdengar ditelingaku, aku menoleh pada seorang namja berwajah dingin itu menatapku lekat.

“apa?”

Terdengar desahan darinya, mendengar pertanyaan ambigu dariku. Oh, come on, aku tak ingin mebahasnya, oppa. Kenapa kau jadi bertanya hal yang kuhindari ini.

“aku akan ke Jepang lusa, meneruskan perguruan tinggi disana” ujarnya sembari mendudukkan dirinya disampingku, diatas rumput hijau yang lembab akibat hujan yang telah berhenti setengajam yang lalu.

Aku mengangkat lagi wajahku melihatnya, “aku akan memberimu 2 pilihan, dan kau,,,,,, harus memilih salah satunya.”

“pilihan?” keningku mengkerut dengan alis yang menyat, meandakanku bingung. Pilihan? Pilihan apa? Apa yang harus kupilih?

“ya, pilihan. Pilihan pertemamu, adalah kembali pada Minho dan memulai hidupmu kembali padanya..”

“tidak. Tidak akan. Aku tidak mau!” seruku dengan nada tinggi padanya

“setidaknya dengarkan dulu aku selesai bicara!” serunya tak kalah tinggi dari suaraku, cukup membuatku diam dan melihatkerahnya. Kembali terdengar olehku ia mendesah berat.

“pilihan keduamu adalah ikut bersamaku. Aku  tak akan memaksamu untuk memilih yang mana, asal itu adalah termaksud pilihan yang kusebutkan, aku hanya tak ingin kau tinggal sendiri di Negara seluas ini, Jiyeon~ah.  Kalau kau memilih pilihan pertama aku akan langsung mengnatarmu pulang malam ini, tapi kalau memilih pilihan kedua, besok aku akan mengurus kepindahanmu dan berkas-berkas yang akan kau butuhkan nantinya, dan lusa kita akan segera berangkat ke Jepang. Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu malam nanti, dan sekarang kau bersihkan badanmu, lalu aku akn mengantarmu periksa kesehatanmu kedokter, kau baru saja bermandikan hujan dan itu bagus untuk kesehatanmu.” Ia berdiri meangkah menjauh dariku setelah sebelumnya mengusap puncuk kepalaku.

Aku terdiam menalari setiap kata yang ia ucapkan, sebelum akhirnya tersadar bahwa ia tak lagi disampingku. Aku berdiri dan langsung mecari sosoknya disekitar taman ini, dan ya aku menemukannya. Aku berlari menghampirinya, menaggapi tangan besarnya, membuatnya menoleh padaku dengan tatapan bingung khas miliknya.

“aku memilih,,,,,,, pilihan kedua, aku akan ikut padamu” ujarku mentap langsung padanya, dan ya, ia hanya tersenyum menanggapiku dan kembali berbalik, melanjutkan langkahnya dengan aku yang mengikutinya dibelakang.

“apa benar kau memiliki perasaan itu padaku, sama seperti apa yang dikatakan olehnya?”

 

***

Dan ya, disinilah aku, duduk berdampingan dengannya, didalam sebuah pesawat yang akan mengakhiri kisahku dinegeri gingsen ini, negeri kelahiranku, yang akan membawaku dalam sebuah kisah hidup baru pada negeri matahari, dengan bunga sakura yang akan ikut menghiasi kisah baruku.

Aku mengalihkan pandanganku kearah jendela pesawat yang beberapa lalu telah take off membuatku tersenyum miris pada pemandangan dibawahku.

“gomawo, jeongmal gomawo, tapi,,,,, maaf,, maaf meninggalkanmu,,,, oppa, berbahagialah terus ne? aku akan berlajar untuk menghilangkan perasan ini dan hanya meninggalkan rasa sayang yang murni dari seorang adik kepada kakaknya. Oppa,, aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu,, annyeong”

Tanpa kusadari air mata kebali keluar dari sudut mataku, dengan cepat aku menghapusnya tak ingin lelaki yang duduk disebelahku melihatnya. Tapi aku telat, ia melihatnya bahkan kurasa ia mendengar semua ucapan lirihku. Ia meremas lembut kedua tanganku, aku menoleh padanya yang tengah tersenyum dengan manisnya padaku,,, dan saat itulah aku sadar,

Bahwa aku masih memiliki harapan, masih memiliki cinta yang tulus darinya. Setidaknya biarkan aku berpikir dan berharap seperti itu.

END

Apa ini? Masih ff atau cerita tidak bermutu?

Maaf, maaf untuk cerita yang membosankan ini.

Maaf untuk ending yang sangat, sangat, sangat,, jauh dari kata memuaskan.

Tapi, tolong dengan sangat untuk mengomen semua FF yang ada diblog ini, termaksud ff aku ini.

Kalau ingin dihargai, belajarlah untuk menghargai orang lain.

Keep Read, Comment, amd Like yo??!!

Advertisements

24 thoughts on “THE END OF OUR STORY

  1. Ahhhh….
    Ssedih bgtt… 😦
    Minho pabooo….
    Jiyi cinta kamu…
    Isshhhh..
    Jaddy end na jiyi milih myusong…
    Minho na?
    Yang first love na belom yaa?
    Ditunggu ya…

  2. Aku suka bangeeet….
    howaah keundae kalau kamu ada ide lanjutin yaa dengan chapter, twooshoot, atau apa deh heheh…
    Seriusan deh suka ma pilihan jiyeon kekeke.. pilih myungsoo sja kekek

  3. Authorrr…. Dirimu membuat sesak bgt bacanya… Hiks hiks hiks….
    Ikut terbawa suasana hati jiyeon… Bener2 sakitttt bgt kyknya harus mendam cinta trus dpt penolakan lagi… 😦

    Daebakkk… Ending nya di luar prediksi ∂ķΰ…
    Jiyeon milih myungsoo,,, trus minho tetep bersama sulli??? ƍäªk relaa sih sebenernya… Tp gpp deh… Yg penting jiyi bahagia 😀

  4. Daripada sakit hati liat minho,lebih baik dg myungsoo,q yakin jiyi lbh bahagia n dsaat kembali ke seoul menjadi org sukses.trus gmn minho gak nyariin jiyi kah?sequelx mind!

    • gomawo,, tpi buat sequel aku bkalan buat kok,, tpi yg jdi mslh aku nggak janji minppa ma jiyi eonni,,

      mianhae,, tpi klo sperti itu bkalan ada perombakan crta dri sequel yang smentara kugarap,,, 😦

  5. Cerita’nya sedih… 😦

    ahh gak apa2 dehh Jiyeon gak sama Minho…
    Myungsoo kan juga tulus keq nya ama Jiyeon… MyungYeon 😀

    d’tunggu FF Jiyeon lain’nya… 😉

  6. mwo ??
    jdi crta’y jiyeon memulai hdup dgn myungsoo dan dgn mudah’y minho membiarkan jiyeon pergi ???
    tp smpat ad kata perpisahan ??
    tnpa bicara lg dgn jiyeon ???

    dan lgi, krna smw dri sudut pandang jiyeon jdi aq sedikit bingung !!
    bagaimana perasaan minho k jiyeon, dan ap jg yg d rasakan myungsoo k jiyeon ??

    moga aq squel yg bwt lbih jlas

  7. Nyesek bacanya T.T hatiku smpe bergetar u,u
    hmm, akhirnya jiyeon milih myungsoo ^^
    sequel dong… MyungYeon yaa ^.^

  8. sakit memang orng yg di cintai hanya menganggap sebagai adik,,,
    duh chingu bikin cerita lanjutannya,, akan seru nih ,, ^^

  9. MyunYeon akhirnyaaa.,

    Gimana Minho, biarkan Jiyeon bersama Myungsoo ngak tega liat Myungsoo terluka..

    Keren kalo ada sequelnya berharap Myungyeon lah wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s