First Love Chapter 6

Gambar

Title : First love

Author : @windyverentnita

Main cast : park jiyeon, choi minho

Lenght : chapter

Genre : romance & comedy

Rating :  tentuin sendiri yah !!

Poster by http://alittlestoryfrompiechie.wordpress.com/

Chapter 6, langsung saja ya..!!

Happy Reading!!

Jiyeon POV

“Minho-a” teriak Suzy yang sudah berada di sampingku dan Minho

“Suzy?Waeyo?”

“kenapa kau tak datang sekolah?”

“aku merawat Jiyeon yang sakit” ucap Minho polos.

Sepertinya ekspresi Suzy berubah, pasti dia cemburu padaku. Apa yang harus kulakukan? Kulihat Suzy sudah menarik Minho keluar kelas kami, meninggalkanku sendiri, aku hanya dapat memandang kepergian mereka berdua. Sebenarnya aku ingin menahan tangan Minho dan menyuruhnya agar tetap berada disampingku. Tapi, aku sudah memutuskan untuk melupakan namja itiu. Karena sekeras apapun aku berusaha nantinya pasti dia akan tetap menyukai Suzy.

“Jiyeon-a, kau sudah sekolah?” tanya IU yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

“ne” ucapku sederhana

“mianhae, aku tak bisa merawatmu”

“gwencana”

“siapa yang merawatmu saat sakit?”

“Minho”

“jinjjayo? Pasti dia benar-benar menyukaimu” aku juga berharap seperti itu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“oh ya Jiyeon, aku hampir lupa. Kau dipanggil sama Lee songsaengnim jika kau sudah sembuh, sebaiknya kau pergi sekarang”

“ne, kalau begitu aku pergi dulu”

Aku melangkahkan kakiku keluar kelas sambil membawa beberapa buku, melewati koridor-koridor yang sudah mulai sepi karena pelajaran sudah berlangsung. Tiba-tiba saja langkahku terhenti saat melihat seorang yeoja dan namja yang sedang ngobrol atau mungkin bisa dibilang berdebat. YA! Itu Minho dan Suzy. Sebenarnya aku ingin langsung pergi meninggalkan mereka agar aku tak akan merasakan sakit lagi, tapi entah mengapa aku tak kunjung juga meninggalkan tempatku saat ini. aku masih terus memerhatikan 2 orang insan itu, hingga akhirnya Minho memeluk Suzy. Air mataku tak bisa kutahan saat melihat adegan itu, dadaku serasa sesak hingga aku tak bernafas. Minho memeluknya erat, air mataku makin tumpah saja dari pelupuk mataku. Aku terus memerhatikan adegan itu walau hatiku mungkin sudah tak berbentuk. Hingga tiba-tiba saja tatapan Minho menangkap keberadaanku. Tatapan kami sempat bertemu hingga aku memutuskan lari dari tempat ini. kemana? Entahlah. Yang ku tahu aku harus sesegera mungkin berlari.

“PARK JIYEON” teriak Minho mecoba mengejarku.

Aku terus berlari tanpa peduli namja itu terus meneriaki namaku, sudah cukup hatiku sakit karena menyukainya. Aku harus benar-benar melupakannya. Aku terus berlari tak tahu kemana. Mungkin sekarang aku berada di taman sekolah. Hosh,,hosh,, sepertinya aku mulai capek, dan kecepatan lariku mulai berkurang, tapi aku harus tetap berlari. Namun sialnya namja itu berhasil mengejarku dan menahan tanganku.

“Jiyeon-na dengarkan penjelasanku!” ucapnya ngos-ngosan

“aku tak perlu mendengar apa-apa lagi”

“tapi itu semua tak seperti apa yang kau lihat”

“hubungannya denganku apa?” tanyaku dingin.

Minho hanya diam tanpa membalas pertanyaanku.

“kau tak perlu kawatir! Kau jangan memperlakukanku seperti yeojachingumu. Selama ini aku terhanyut akan kebaikanmu padaku, hingga aku melupakan semua perjanjian kita. Tapi setelah melihat yang kulihat tadi, itu seperti teguran dari Tuhan agar aku tak berharap lebih.”

“apa aku menyakitimu lagi?”

“anniyo, sudah kubilang dari awal ini semua bukan salahmu. Kau tak menyakitiku. Dirku sendiri yang menyakitiku.”

“apa kau akan melupakanku?”

“ne, aku akan berusaha keras untuk bisa melupakanmu”

“kalau begitu, kenapa kau menangis?”

DEG. Aku tak bisa menjawab pertanyaan satu ini, aku tak bisa memikirkan jawaban-jawaban yang bisa kulontarkan. Aku tak tahu kenapa air mataku bisa jatuh, mungkin karena aku sangat mencintainya. Tapi tidak mungkin aku memberitahu alasannya.

BRUUUUUKKK

Buku-buku yang kubawa tadi jatuh berhamburan, karena tiba-tiba saja Minho sudah memelukku. Sesaat aku terhenyak dipelukannya dan menangis di tempat hangat itu.

“jika itu membuatmu menangis seperti ini, maka behentilah mencoba melupakanku!” ucapnya dengan nada pelan.

“anniyo, itu akan membuatku sakit nantinya. Aku bukan orang yang hanya memikirkan bagaimana hari ini? tapi aku juga memikirkan bagaimana nantinya? Mungkin jika aku berhenti melupakanmu aku akan tersenyum hari ini. tapi bagaimana dengan besok, lusa, 1 minggu kedepan, 1 bulan kedepan, atau 1 tahun kedepan? Apa senyum itu masih bisa bertahan? Apa kau bisa menjaga senyum 2 orang yeoja sekaligus? Itu tak mungkin Choi Minho. Akan ada 1 orang yang tersakiti. Maka dari itu, aku yang akan menjadi orang yang tersakiti itu. Mungkin sakit yang kurasakan akan lebih baik nantinya. Karena jika aku terus bertahan aku akan makin meyukaimu” ucapku melepas pelukannya dan berjalan meninggalkannya yang terpaku ditempatnya.

Minho POV

Aku masih terus terpaku ditempatku. Kata-kata Jiyeon tadi sama persis dengan apa yang selalu mengganjal di otakku. Aku memang tak mungkin bisa mempertahankan senyum 2 oang yeoja sekaligus, pasti akan ada yang tersakiti. Tapi sayangnya, sekeras apapun aku berfikir aku masih tak bisa menentukan orang yang kusukai, aku masih belum mahir soal cinta. Bahkan membedakannya aku tak bisa, hingga 2 orang yeoja itu harus tersakiti karena kebodohanku.

“Aissshhhh,,,,,” pekikku sembari mengucak rambutku frustasi.

Bagaimana bisa aku membuat 2 orang yeoja yang menyukaiku menangis dalam waktu yang bersamaan? Kenapa mereka harus menangis karena namja bajingan sepertiku? Aku bahkan tak bisa berbuat sesuatu pada mereka. Bahkan jika aku ingin membuat mereka tersenyum, hanya satu yang bisa kutolong, apakah itu adil?

***

 “Minho-a, waeyo?” tanya Key kawatir padaku, karena dari tadi aku hanya diam tanpa memedulikan Key yang sedang bercanda.

“gwencana”

“jinjjayo? Kau jangan berbohong padaku, aku sudah mengenalmu lama, jadi ceritakan saja padaku!”

“apa kau pernah jatuh cinta?”

“tentu saja”

“hmm, maksudku, apa kau pernah tidak bisa membedakan yang mana orang yang kau cintai?”

“maksudnya?”

“begini, sekarang aku tidak bisa menentukan orang yang sebenarnya kucintai”

“carilah yang benar-benar kau cintai”

“masalahnya, aku tidak tahu soal cinta. Aku masih dibingungkan dengan itu. Andai saja aku sedikit mahir tentang cinta, bisakah kau beritahu padaku apa itu cinta?”

“Minho-a semua orang punya pendapat sendiri tentang cinta. Definisi cinta itu bukan hanya satu. Jadi, kau harus menentukannya sendiri!”

“tapi jika aku masih mencari jawabannya, itu akan memakan waktu lama”

“semua perlu waktu dan proses”

“tapi aku tak mau membuat mereka berdua sakit dan menangis lebih lama lagi karenaku”

“kalau begitu, tanyalah hati kecilmu! Semua jawabannya ada disitu”

***

Aku hanya terus-menerus berputar-putar sekolah mencari sosok Jiyeon. Dari pelajaran pertama sampai terakhir, dia juga tak kunjung masuk kelas. Ada apa dengannya? Apa dia marah padaku? Aisshhhh,,, apa masalah tak bisa datang satu persatu saja padaku?

“apa kau melihat Park Jiyeon?” tanyaku pada orang-orang yang lewat.

“tadi dia bersama seorang namja pindahan” ucap seseorang yang kutanya

“terus dimana dia sekarang?”

“mungkin di taman belakang”

“kalau begitu, aku pergi dulu. Gomawo”

Dengan secepat kilat aku berlari ke taman belakang untuk menemui Jiyeon. Tapi, siapa namja pindahan yang dimaksud? Kenapa Jiyeon bisa secepat itu akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya? Kupercepat langkah lariku menuju taman belakang sekolah kami. Posisiku sekarang masih agak jauh dari taman belakang. Tapi aku bisa melihat dengan jelas seluruh isi taman belakang dari sini. Termaksud Jiyeon yang sedang menangis bersandar didada seorang namja tampan yang sama sekali tak kukenal. Tiba-tiba saja kuurunkan niatku untuk menghampirinya. Aku hanya terus membeku memerhatikan Jiyeon dan namja itu dari sini. Sedikit demi sedikit aku mundur dengan perlahan. Meninggalkan semua adegan-adegan yang tak sengaja kulihat tadi. Apa Jiyeon benar-benar ingin melupakanku?

***

Jreng,,jreng,,jreng,,

Bunyi suara gitar yang kumainkan tak beraturan. Aku masih dalam mood yang benar-benar jelek untuk dapat bermain dengan baik. Aku terus memikirkan Jiyeon dan namja tadi. Siapa dia? Aisssssshhhhh…. Apa tak ada yang bisa memberitahuku? Kumainkan terus gitar itu, makin lama makin keras dan tak beraturan.

“apa kau tak bisa memainkannya dengan lebih baik? Daritadi telingaku benar-benar akan pecah mendengarnya” ucap seorang yeoja dari depan berandaku.

“mmm…” hanya ucapan itu yang kukeluarkan

“Minho-a!”

“mmm…”

“apa kau tak bisa menjawab dengan kata lain, selain ‘mmm…’”

“waeyo Jiyeoni? Apa ada yang ingin kau katakan?”

“ne, aku ingin meminta maaf, karena sudah membentakmu tadi pagi”

“gwencana” ucapku dengan tidak menatapnya.

“apa kau benar-benar sudah memaafkanku?”

“ne”

“kenapa kau sepertinya tak memaafkanku dari hatimu?”

“anniyo, aku sudah memaafkanmu, tanpa kau meminta maaf sekalipun”

“gomawo”

“apa kau hanya ingin mengatakan itu?”

“ne. waeyo?”

“anniyo, hanya saja, kau hanya ingin meminta maaf soal yang tadi pagi? Apa kau tak ingin meminta maaf saat sore pulang sekolah?

“ah mianhae, pasti kau mencariku, karena tidak mengabarkanmu untuk tidak pulang denganmu, mianhae!”

“oh, bukan yang itu. Tapi yang satunya lagi”

“yang mana? Aku sama seklai tak mengerti”

“hu, saat pulang sekolah. Saat kau berdua dengan…. Ahhhh lupakan saja jika kau tak mengingatnya”

***

Sudah 1 bulan semenjak kedatangan namja pindahan yang kulihat bersama Jiyeon. Dia adalah Myeong Soo, sahabat Jiyeon dari kecil. Dari berita-berita yang kudengar dari IU dan Krystal, menurut mereka Myeong Soo sudah menyukai Jiyeon lama, mungkin karena itu dia pindah kemari. Tidak terasa waktu terus berlalu, tapi aku bahkan tak mendapatkan jawaban tentang orang yang kucintai, mungkin menurut kalian aku benar-benar namja pabo. Tapi begitulah kenyataanya, menyedihkan lagi aku bahkan tak dekat lagi dengan Jiyeon. Dia selalu bersama Myeong Soo, hanya diwaktu-waktu tertentu aku bisa bersamanya.

“gwencana?” tanya Key yang mulai kawatir lagi denganku. Yah boleh dibilang dia sudah seperti ummaku, dia selalu saja memberikanku masukan-masukan positif. Entah bagaimana jadinya Choi Minho jika Key tak ada.

“ne, gwencana”

“kenapa kau lagi-lagi hanya melamun?”

“Aku sedang memikirkan Jiyeon yang mulai jauh dariku”

“apa kau sudah menemukan jawaban tentang orang yang kucintai?”

“anniyo, aku bahkan selalu berfikir dengan keras tapi aku sama sekali tak bisa memfikirkan jawabannya”

“ya Choi Minho! Apa kau sekarang sudah menjadi namja pabo. Sangat terlihat jelas orang yang kau sukai. Kenapa kau masih memikirkan itu terus?”

“apa kau menemukan jawaban tentang orang yang aku sukai?”

“aissshhh, apa kau tak sadar dengan perasaanmu sendiri?”

“menyadari perasaan apa? Aku bahkan belum menemukan jawabannya”

“kau sudah mendapatkannya, hanya saja kau belum mennyadarinya”

“apa maksudmu?”

“sebaiknya kau berfikir lebih jernih lagi, aku tak mungkin mengatakan orang yang sebenarnya kau cintai. Kau harus menemukannya sendiri. Gunakan hati Choi Minho, hatimu yang bisa membedakan mereka berdua”

***

“untuk apa kau disini?” tanyaku pada namja yang sudah merebut Jiyeon dariku.

“ini lapangan basket bukan? Tentu saja aku ingin bermain basket”

“kau bukan anggota tim basket”

“aku baru saja menjadi anggotanya”

“kenapa aku bisa tidak mengetahuinya? Aku kapten disini.”

“aku baru saja diterima oleh pelatih, tentu saja kau belum diberitahu”

“tapi sekarang bukan waktunya tim basket untuk bermain”

“aku hanya ingin latihan seperti yang kau lakukan”

“terserah saja”

Aku menunjukkan permainanku di lapangan, kemudian menshoot bolaku kedalam ring.

“apa kau menyukai Jiyeon?” tiba-tiba namja itu bertanya tentang Jiyeon.

“ne?” tanyaku heran.

“apa kau menyukainya atau tidak? Jika kau tak menyukainya tolong jelaskan!”

“kenapa kau bertanya seperti itu?”

“kudengar kau juga dekat dengan Suzy? Apa kau tak bisa menegaskan yang mana orang yang kau cintai?”

“itu semua bukan urusanmu”

“aku tak peduli dengan alasanmu, tapi mulai sekarang jangan membuat Jiyeon menangis lagi!”

“dia menangis?”

“ne, orang yang kucintai menangis karena namja sepertimu, aku tak mau melihat itu lagi! Aku menyukai Jiyeon jadi, jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya menangis! Jangan membuatku yang tidak melakukan sesuatu untuk bertindak!”

Aku hanya terdiam, tanpa tahu harus melakukan apa? Kulihat Myeong Soo sudah meninggalkanku sendiri.

***

Sekarang aku sedang mengajar Jiyeon. Tapi, otakku terus-menerus mengingat kata-kata Key, ‘kau sudah menemukan jawabannya, hanya saja kau belum menyadarinya’, ‘gunakan hatimu Choi Minho. Karena hatimu yang bisa membedakan mereka berdua”. Sebenarnya apa yang dimaksud Key?

“gwencana?” tanya Jiyeon padaku

“ne, gwencana. Apa kau sudah mengerjakannya?”

“ne. igeo”

Aku mengambil buku yang diberikan oleh Jiyeon, dia sudah mengalami kemajuan sejauh ini. mungkin sedikit lagi dia takkan membutuhkanku. Selama 1 bulan ini dia jarang sekali menegurku, apalgi bercanda seperti dulu. Dia hanya mengeluakan suaranya untuk hal-hal yang benar-benar penting. Jujur saja aku benar-benar merindukan jiyeon yang dulu, saat pertama aku mengenalnya. Jiyeon yang pabo tapi cerewet, Jiyeon yang tak mau dikalah, yang menginginkan semua sesuai kehendaknya. Namun sepertinya tak ada satupun takdir yang berjalan sesuai keinginanku, semua permohonanku terkabul secara terbalik. Ini semua mutlak salahku, karena aku yang tak bisa memilih.

“Jiyeon ah, tak bisakah kau menjadi jiyeon yang seperti pertama kukenal?” ucapku dengan menatap kedua matanya.

“mianhae, mungkkin itu akan susah bagiku”

“apa sekarang kau begitu membenciku?” aku sudah menahan air mataku.

“aku sama sekali tak membencimu”

“kalau begitu, tolong jangan bersikap seperti ini padaku, aku benar-benar tak sanggup diperlakukan seperti itu”

“mianhae Minho ah, aku bukannya tak mau kita seperti itu lagi. Tapi, seperti sekaranglah yang terbaik untukku” sepetinya jiyeon juga sudah menahan air matanya

“apa kau tak memikirkan bagaimana perasaanku?”

“mianhae..”

“jebal Jiyeon –ah,! Ak ingin kita sepeti dulu lagi, tak ada kecanggungan seperti ini, semuanya dikatakan sesuka hati dan kemauan kita sendiri”

“mianhae Minho ah, jeongmal mianhae. Aku benar-benar tak bisa sekarang. Aku sedang belajar untuk melupakanmu”

“Apa kau begitu menginginkan untuk melupakanku? Apa kau benar-benar ingin menghapus ingatanmu tentangku? Apa kau ingin aku lenyap dai kehidupanmu? apa kau benar-benar muak dengan namja yang bernama Choi Minho ini? apa seperti itu Park Jiyeon?”

“bukan seperti itu Minho ah, aku sama sekali tak ingin melupakanmu. Hanya saja keadaan yang memaksaku, unutk bisa melupakanmu. Kau tahu betapa aku tak ingin melupakanmu? Aku bahkan sama sekali tak ingin . tapi apa boleh buat. Kau tak tahu betapa susahnya berjuang untuk melupakanmu. Kau pikir aku tak sakit? Sakit Mnho ah, sakit. Kau tak tahu rasanya menyukai seseorang yang tak menyukaimu. Kau tak tahu rasanya hancurnya perasaanmu melihat orang yang kau cintai bersama orang lain, kau tak tahu betapa aku mencintaimu”

“………..” aku hanya diam mendengar ucapan Jiyeon, air mataku sudah jatuh menetes, dua tetes, aku bahkan tak berfikir tentang perasaannya.

“apa kau punya keahlian yang tak bisa terkalahkan?” tanyaku sembari menghapus air mataku.

“ne?”  Sepertinya Jiyeon heran.

“katakan saja, apa keahlianmu yang tak terkalahkan?”

“mungkin menghabiskan ramen dalam sekejap”

“kalau begitu, apa kau mau berlomba makan ramen denganku? Orang yang kalah harus menuruti apa yang dikatakan pemenang. Otthe?” sepertinya Jiyeon berfikir dengan matang-matang.

“berapa permiantaanmu?” tanyanya kemudian.

“3” ucapku mantap

“baiklah, tapi kau jangan menyesal.tak pernah ada yang mengalkankku selama ini”

“ne, bagaimana kalau kau mengambil ramennya sekarang”

“ne”

Jiyeon sudah pergi keluar kamarnya untuk mengambil ramen. Sebenarnya aku tak bisa makan ramen, sejak kecil orang tuakku sudah melarangnya. Karena aku akan alergi dan panas dingin setelah iti\u. Tapi, untuk sekarang aku harus melanggar itu semua. Kali ini aku harus menang.

“ini ramennya” ucap Jiyeon yang datang dengan dua mangkuk ramen ditangannya.

“baiklah kita mulai! 1..2..3” aku sudah memakan ramen itu dengan cepat. Aku sempat melihat Jiyeon yang memakan ramen itu, dia benar-benar cepat dari yang kukira. Tapi aku tak boleh kalah, ada sesuatu yang harus kuminta. Aku terus berusaha untuk menghabiskan ramen itu dengan cepat, walau rasanya aku sudah ingin muntah. Kuangkat mangkokku dan kumakan semua ramen yang tersisa

“selesai” ucapku setelah menelan semua ramen yang ada dimulutku.

“Mwo? Kau sudah selesai?” sepertinya Jiyeon kaget karena aku bisa mengalahkannya.

“ne”

“ba-ba-bagaimana bisa?”

“itu tak penting, sekrang kau harus menuruti permintaanku!”

“a-apa itu?”

“Jiyeon ah, Jebal, mungkin ini terdengar egois, tapi kumohon tetaplah menyukaiku!”

TBC

Advertisements

21 thoughts on “First Love Chapter 6

  1. Aigoooo…. Minho blm sadar juga siapa yeoja yg lebih di cintai…. Tapi salut juga sih sama usaha minho supaya jiyeon tetep suka sama dy… 😀

    Makin seru thorrr….

    Lanjutttttt yaaa ^^

  2. Aigoo, udah jelas” suka. Masih aja nggak ngeh,
    Pabo minho..

    Minho sie pencinta ramen, d sini malah alergi ramen.. Hahahahaha

    Lanjut thor

  3. aishhhhhh,,,,gemes ma minppa masa’ gak nyadar-nyadar sih klo dia cintanya ma jiyeonnie?????????padahal udah cmburu ma myung soo……huhhhhh,,,,,
    update soon thor,,,

  4. Hwaaaaa minho nyruh jiyi bwt tetap menykainya!!
    Aigoo ayo donk minho kmu sdar law kmu tuch cinta_ny ma jiyi…. ;-D
    next updatesoon…;)

  5. Aigo, Minho blum mnyadari perasaan dy yg sbner’x…
    Smga aja Minho cpet sadar klw yeoja yg ia cintai itu Jiyeon… ^_~

    d’tunggu sangat next part’x…
    Post yg cpet donkk thor… ^^

  6. Emang !!! dirimu tuh mang pabbo dalam masalah cinta !!
    Huuuhh .. jadi pengen jambak” rambut y miho deh
    Eee .. g jadi deh *nglirik ngerik ngeri k fans y minho yg udah kya srigala yg ga makan berbad” siap menerkam mangsa y(lebay) 😀
    Minho dirimu tau ga sih ?? klo u minta Jiyeon ttep suka ma kamu itu arti y drimu jg hrus bls perasaan Jiyeon

  7. ais, minho lama banget yah nentuin hatinya! u.u
    tapi memank susah sih nentuin hati kita buat seseorank u.u
    omo ><
    minho nekat amat maken ramen 😮
    kambuh pasti nanti alerginya? u.u
    next^^

  8. Aigo pabo sdh nyata” kau mngs krn uri yeonnie.. Yak choi minho arghhh tdk lm aku nyuru si key nih buat getok minho ,,,
    (.”)
    ,_/ \\
    ))~~preeeet
    _|,|

  9. rasain kmu minho saingan ma myungsoo..aigoo knapa minji nggak nyadar” ma perasaan mreka sich..udah taw sling ska tpi di bkin rmit prasaannya..ckckckckck,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s