First Love Chapter 5

rgef

Title : First love

Author : @windyverentnita

Main cast : park jiyeon, choi minho

Lenght : chapter

Genre : romance & comedy

Rating :  tentuin sendiri yah !!

Chapter 5, langsung saja ya..!!

Happy Reading!!

Minho POV

“Berhentilah mendayung!” ucapnya menahan tanganku

“waeyo?”

“berhenti saja dan berdiri!” lagi-lagi dia memerintahku.

“arraseo”

“aku akan mengatakannya sekarang”

“cepatlah katakan! Hujan benar-benar deras”

“dengarkan bak-baik! Aku hanya akan mengatakannya satu kali. Kali ini, aku sedang benar-benar tidak bercanda, mengigo, berhalusinasi atapun tidak sadar. Aku benar-benar tak dapat menyebunyikannya lebih lama. MINHO-ah SARANGHAEYO”

Eh? Ini tak mungkin, pasti!

“ucapku dengan tertawa kaku

“anniyo, sekarang aku benar-benar sadar, mungkin kau pikir aku yeoja bodoh yang dengan gampangnya menyukaimu. Tapi, ini bukan mauku,”

“aku……” aku tak tahu apa yang harus aku katakana. Seluruh kata-katanya benar-benar membuatku sesak.

“jika disuruh memilih, mungkin aku akan memilih menyukai orang yang juga menyukaiku. Tapi hatiku berkata lain, dia lebih memilih mencintai seseorang yang bahkan tak sedikitpun mencintainya.” Tabahnya lagi aku hanya membeku mendengar kata-katanya, itu benar-benar membuatku sesak tak bernafas, aku terus diam hingga ia menambahnya lagi

“kau tak perlu membalasnya atau berkata sepatah katapun karena aku tahu apa yang akan kau katakana. Kau mau mendengarkanku seperti sekarangsudah cukup bagiku. Terima kasih sudah mengajarkan perasaan itu padaku, walau akhirnya harus seperti ini, dan berjanjilah untuk hidup bahagia bersam Suzy, karena hanya itulah yang membuatku tenang. Melihatmu tersenyum bahagia bersama orang lain.”

Sekarang Jiyeon benar-benar menangis terisak. Aku dapat mendengar isakan tangisnya dan melihat air matanya yang jatuh bersama air hujan yang ikut membasahinya.

“mungkin memang…” aku tak sanggup mendengar kata-katanya lagi. Aku sudah cukup tak bernafas dengan kata-kata yang sudah ia lontarkan, hingga aku memeluknya erat agar ia tak berkata lagi.

“Stop! Kumohon jangan menangis hanya karena diriku  dan jangan lanjutkan kata-katamu, itu benar-benar membuatku sesak. Mianhae Jiyeon-ah, mianhae….” Akhirnya bisa juga kukeluarkan apa yang ingin kukatakan.

“kau tak perlu minta maaf, itu bukan salahmu. Semuanya salahku karena aku tak bisa menahan hatiku agar tidak menyukaimu.” Lagi jiyeon menangis terisak. Aku benar-benar tak tahan dengan itu semua.

“jebal Jiyeon-ah, berhentilah menangis untukku, aku tak bisa melihatmu menangis seperti itu”

“ne” hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya hingga ia menambahkan

“aku ingin pulang”

“baiklah” sepertinya aku juga harus memikirkan semuanya dengan tenang di rumahku.

***

Aku hanya terus berguling-guling di tempat tidurku tanpa bisa tidur sedikitpun. Semua rekaman yang terjadi tadi benar-benar tak mau hilang dari pikiranku. Aku tak menyangka akan datang hari dimana Jiyeon menyatakan cintanya padakku. Aku tak dapat berkata-kata saat itu, dadaku terasa benar-benar sesak, mungkin aku benar tak bernafas tadi saat melihatnya menangis.

Saat dia bilang menyukaiku, aku tak dapat melontarkan kata ‘tidak’ dari mulutku. Tapi aku juga ragu untuk mengeluarkan kata ‘iya’.

Aku masih dibingungkan denagn perasaanku pada Suzy dan jiyeon. Berada di dekat mereka benar-benar berbeda. Perasaanku saat berada di dekat jiyeon berbeda dengan saat dulu aku berfikir menyukai Suzy. Perbedaannya begitu jauh, hinggan benar-benar membuatku bingung. Entah perasaan di dekat siapa yang benar-benar cinta? Aku harus segera memikirkannya dan menemukan jawaban, agar tidak ada yang tersakiti lebih lama lagi.

***

“Jiyeon kemana?” gumamku dalam hati. Dia tak datang sekolah hari ini. Ada apa dengannya? Apa dia tak mau melihatku? Ahhhh itu tak mungkin. Tadi waktu aku datang menjemputnya, dia tak keluar-keluar dari rumahnya, dan saat aku mengetuk pintunya, tak ada yang membukanya. Sebenarnya ada apa dengannya?

Kulihat temannnya bernama IU itu sedang duduk dibangkunya, coba kutanyakan saja padanya tentang jiyeon.

“annyeong IU-ssi” sapaku pada IU.

“oh, Minho annnyeong”

“aku ingin bertanya sesuatu padamu”

“oh silahkan, ada apa?”

“kenapa jiyeon tak masuk sekolah?”

“apa kau tak tahu? Dia sedang sakit” MWO? Sakit? Kenapa aku tak mengetahuinya.

“benarkah? Aku sama sekali tak mengetahuinya”

“kasian Jiyeon dia sakit di saat yang tak tepat”

“ apa maksudmu?” tanyaku dengan penuh tanda tanya.

“sekarang orang tuanya sedang ada diluar kota. Mungkin 2 minggu lagi baru tiba. Sulli sedang darmawisata bersama sekolahnya, sedangkan pembantunya sedang izin pulang kampung karena anaknya juga sakit”

“jadi sekarang Jiyeon sendirian dengan keadaan sakit?” tanyaku deangan kawatir yang memenuhiku sekarang.

“ne”

“kalau begitu aku permisi, gomawo IU-ssi, annyeong”

Aku segera berlari  ke parkiran motorku, tanpa peduli orang berkata kalau songsaengnim akan segera masuk.

***

Tok,,tok,,tok,,,

Aku mengetuk pintu rumah Jiyeon. Tapi dari tadi tak ada sahutan atau langkah kaki yang mendekat. Ah, aku baru ingat kata IU tadi, tak ada siapa-siapa di rumahnya selain Jiyeon sendiri. Aku segera berlari ke rumahku dan segera masuk ke kamarku dan membuka pintu berandaku. Dengan segera aku melompat ke beranda Jiyeon karena memang beranda kami hampir benar-benar berhimpit. Kubuka pintu beranda Jiyeon dan untungnnya tidak terkunci.

Kulihat jiyeon terbaring lemas di ranjangnya, pasti dia benar-benar merasa sakkit.

“kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Jiyeon yang menyadari kehadiranku.

“kau tak perlu tahu, bagaimana keadaanmu?”

“gwencana” ucapnya dengan lirih

Kucoba untuk menyentuh kepalanya, dan yang benar saja aku langsung tersontak dan menepiskan tanganku darinya.

“apa kau gila? Kau masih bisa bilang dirimu baik-baik saja”

“aku benar-benar tak apa-apa Minho-ah”

“sudah kau tak perlu bicara lagi, chakaman! Aku akan pergi ke rumahku sebentar”
aku segera berlari menuju dapur rumahku mengambil beberapa es dan bubur untuk Jiyeon. Di rumahku tak ada satupun hari tanpa bubur, karena ibuku selalu meminta dibuatkan sarapan pai dengan bubur. Kemudian aku berlari ketempat kota P3K di rumahku dan mengambil beberapa obat yang ku anggap penurun panas.

Dengan segera aku berlari lagi ke kamar Jiyeon, sepertinya aku kebanyakan lari hari ini ^__^.

“kau mau apa?” tanya Jiyeon, setelah melihatku membawa es ke sampingnya.

“tentu saja mengkompresmu, babo”

“kau tak perlu melakukan itu”

“waeyo? Apa aku tak bisa melakukan ini?” tanyaku dengan muka sepolos mungkin.

“tentu saja” jawabnya sangat lrirh.

“apa alasannnya? Bukannya kau yeojachinguku? Jadi wajar-wajar saja kau merawatmu”

“tapi aku hanya yoejachingu palsumu, Minho-ah”

“kalau karena itu alsanmu, maka lupakan saja kata palsunya” kata-kata itu keluar tanpa aku yang mengkontrolnya.

“jebal Minho-ah, kau jangan melakukan hal yang membuatku makin susah untuk mencoba melupakanmu” sekarang Jiyeon sudah menunduk dengan mata berkaca-kaca. Hatiku serasa perih saat dia mengatakan ingin mencoba melupakanku. Apa dia benar-benar merasakan sakit karenaku? Apa menyukaiku merupakan hal yang salah baginya?

“kalau begitu jangan melupakanku, itu akan menjadi lebih baik”

“anniyo, aku akan tetap mencoba melupakanmu. Aku tak mau menjadi seorang yeoja yang menyedihkan. Aku tak mau terus-menerus menyukai seseorang yang menyukaiku”

Sepertinya hatiku seperti dihantam sesuatu mendengarnya. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Entah ada apa dengan hatiku sekarang aku benar-benar tak merasa sperti ini saat bersama Suzy. Oh Tuhan, sebenarnya aku menyukai siapa? Yang manakah cinta?

Hening! Itulah yang terjadi diantara aku dan Jiyeon. Kami hanya berkutat dengan pikiran masing-masing.

Kruyuuuuuk……….

Tiba-tiba suara perut jiyeon berbunyi. Hahahaha, pasti dia sangat lapar, aku lupa memberinya bubur yang kuambil tadi.

“hahahaha……” sepertinya kau tertawa terbahak-bahak.

“ya! Jangan tertawa! Apa itu lucu?’

“tentu saja itu lucu, hahahahahaha….” Aku terus saja tertawa hingga aku melihat Jiyeon yang sudah cemberut.

“arraseo, arraseo, aku akan berhenti tertawa. Ayo buka mulutmu!” pintaku padanya

“untuk?”

“kau lapar bukan? Aku membawa bubur dari rumahku, jadi ayo buka mulutmu, biar kusuap”

Dia sudah membuka mulutnnya, langsung saja kumasukkan sendok yang berisi bubur itu.

“bagaimana? Apa enak?” tanyaku bertubi-tubi

“ne”

“untunglah”

“waeyo?”

“anniyo, kupikir kau tak akan menyukainya”

“hahaha,, kau selalu mengambil kesimpulan sendiri”

Aku hanya terus melihatnya tertawa sperti itu. Dia benar-benar yeoja kuat, walau keadaannya sangat lama seperti itu, dia masih saja tersenyum bahkan tertawa disaat raganya sedang sakit bahkan hatinyapun sakit karenaku. Maafkan aku karena belum bisa memutuskannya secepat ini jiyeon.

“waeyo?’ tanyanya tiba-tiba

“anniyo, aku hanya senang melihatmu tertawa bersamaku”

“ne?”

“hehehe, tak usah dipikirkan”

***

“lebih baik kau pergi sekolah” ucap Jiyeon padaku
“anniyo, aku masih mau menemanimu di sini”
“apa kau belum puas? Kau sudah memaksaku agar kau bisa tidur di sini tadi malam an sekarang kau tak mau pergi sekolah?”

“ne, sudah kubilang aku mau menemanimu, disin tak ada orang bukan?” sekarang aku sudah memasang muka memelas milikku.

“biar tak ada orang, tapi……”

“tak ada tapi-tapian, aku akan tetap menemanimu” ucapkku memotong

“terserah kau saja”

“hehehe, begitu dong”

Aku dan Jiyeon kembali diam. Aku hanya membaca buku milik Jiyeon yang aku yakin dia tak pernah baca sekalipun.

“Minho-ah” panggil Jiyeon

“waeyo? apa kau membutuhkan sesatu?”

“bisakah kau membawaku jalan-jalan ke taman?”

“apa kau gila? Kau masih sangat lemas”

“jebal Minho-ah, aku benar-benar ingin jalan-jalan. Aku bosan dari kemarin hanya terus baring. Aku mohon!!” dia terus memasang wajah polosnya dengan ekspresi benar-bena meminta. Tentu saja aku tidak tega.

“arraseo, kajja”

Aku merangkul Jiyeon berjalan menuju taman. Taman itu tak terlalu jauh. Jadi, Jiyeon tak perlu capek untuk berjalan ke taman itu.

“kita duduk di sini saja” ucapku pada Jiyeon

“ne”

“apa kau sering ke taman ini?”

“ne, setiap minggu aku kemari”

“kau pasti menyukai tempat ini”
“tentu saja”

“apa kau ingin sesuatu?” tawarku

“aku ingin makan permen”
“kalau begitu tunggu sebentar”

Aku mulai berdiri untuk pergi membelikan Jiyeon permen. Tapi tiba-tiba saja langkahku terhenti karena tanganku sudah ditahan oleh Jiyeon.

“chakaman, kau tak usah pergi”

“waeyo? bukankah kau ingin permen?”

“tak usah pergi, tetaplah di sampingku”

“ne?” tanyaku tidak mengerti

“kau mau melakukan yang ku minta bukan?”
“ne”
“kalau begitu tetaplah di sampingku!”

Aku hanya menurutinya dan duduk kembali di sampingnya. Aku tak mengerti dengan pikiran Jiyeon saat ini.

“kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bersikap seperti itu?” ucapnya

“ne”

“setelah dipikir-pikir aku lebih menginginkan kau di sampingku saat ini dari pada permen. Aku ingin menikmati sisa waktuku sebagai yeojachigu palsumu. Sebelum hidupku akan kembali seperti semula dan kau akan kembali pada Suzy”

PLAAAKKK!!

Hatiku seperti tertampar mendengar itu semua. Entah mengapa, setiap dia mengatakan tentang hal-hal perpisahan selalu membuatku sesak. Sebenarnya ada apa? Andai saja aku lebih memahami tentang cinta, pasti sekarang aku bisa membedakan perasaan pada Jiyeon dan Suzy. Pasti aku bisa mengetahui perasaan dekat siapa yang dinamakan cinta.

“coupta” gumam Jiyeon yang mengagetkanku

“apa kau kedinginan?”

“sedikit”
“kalau begitu ayo kita pulang!”

“anniyo, aku masih mau di sini”

“tapi disini dingin, kau juga masih sakit dan aku juga tak membawa jaket. Jadi, ayo kita pulang!”

“anniyo, aku masih ingin di sini”

“tapi kau tak memakai jaket”
“tidak apa-apa, aku pasti bisa bertahan kok”

Aku hanya dapat menatap sendu ke arah Jiyeon, bagaimana mungkin dia bisa bertahan dalam cuaca seperti ini. Dia sudah benar-benar pucat bibirnya benar-benar kering. Bodohnya tadi aku tak memakai jaket. Dan aku juga tak membawa jaket, apa tak ada cara lain lagi apa? Mungkin Cuma cara itu. Tapi mana mungkin, Jiyeon makin lama makin pucat. Ahhhh,, kenapa di saat seperti ini aku masih memikirkan harga dii. Ya sudah Cuma cara itu.

Hug

Langsung saja kupeluk Jiyeon. Kata orang-orang cara menghangatkan orang dengan cara memeluknya (emang betul apa??)

“a,,a,,apa yang kau lakukan?”

“mianhae, aku hanya bisa melakukan ini, memang tidak sehangat jaket, tapi setidaknya ini lebih baik”

“kau tak perlu seperti ini”

“anniyo, aku tak bisa melihatmu semakin pucat seperti itu”

“tapi aku tak apa-apa”
“anniyo, aku akan merasa tenang jika aku bisa melakukan sesuatu untukmu”
Jiyeon hanya terus diam menatap ke depan, dia tak lagi membantah dengan apa yang kulakukan. Namun, bisa kurasakan badannya begitu kaku saat kupeluk.

“kau tak perlu takut, sampai badanmu kaku begini” ucapku

Jiyeon tak menggubris ucapanku , dia hanya terus memandang ke depan dengan tatapan kosong. Kami hanya berdiam di tempat ini dengan posisi aku memeluk Jiyeon.

“ayo kita pulang!” ucapnya dengan nada pelan

“ne, Kajja!”

***

“apa kau yakin?” tanyaku kawatir

“ne, sudah lama aku tak masuk”

“tapi kau masih sangat pucat”

“gwencana, itu hanya karena kulitku saja”

“tapi, kau harus janji. Kau harus memberitahuku jika kau merasa tak enak badan di sekolah”

“ne, yakso!”

“kalau begitu ayo naik ke motorku!”
aku langsung melajukan motorku saat Jiyeon naik, aku sengaja tidak membawanya dengan kecepatan tinggi. Mngingat keadaan Jiyeon seperti sekarang.

Sesampainya aku di sekolah aku terus berjalan menyeimbangi Jiyeon dengan posisi tanganku berada di kedua pundak yeoja itu. Aku yakin semua yeoja sedang menatapnya dengan tatapan siap memangsa , tapi untunglah Jiyeon tak menghiraukannya.

“ayo duduk Jiyeon!” ucapku sambil  menepuk kursinya. Jiyeon langsung duduk tanpa berkata apa-apa. Aku heran, akhir-akhir ini dia tak secerewet sperti pertama aku bertemu dengannya.

“sebenarnya ada apa denganmu?” tanyaku pada yeoja itu.

“maksudmu?”

“kenapa kau seperti tak mau berbicara denganku?”

“tak ada apa-apa!”
“kurasa kau mulai berubah dari Jiyeon yang dulu kukenal”

“mungkin hanya persaaanmu”

“tapi aku……” tiba-tiba omonganku terpotong karena sperti ada seorang yeoja yang meneriaki namaku.

“Minho-ah” teriak yeoja itu

“Suzy? Waeyo?” tanyaku

“kenapa kau tak datang sekolah?”

“aku merawat Jiyeon yang sakit” ucapku polos . tiba-tiba saja raut muka Suzy berubah, aku nuga tak tahu kenapa seperti itu. Apa kau salah ngomong ya? Tanpa kusadari, Suzy sudh menarik kedua tanganku menjauhi Jiyeon.

“kenapa kau menyeretku sih?” tanyaku sedikit kesal .

“kenapa kau tak sekolah hanya karena yeoja itu” teriaknya padaku.

“waeyo? aku hanya merawatnya karena dia sakit”\

“tapi, kenapa harus kau?”

“karena tak ada siapa-siapa di rumahnya.”

“walau tak ada siapa-siapa. Kenapa harus kau? Apa dia tak punya teman yang dapat dia minta tolong?”
“memang kenapa kalau aku? Apa ada yang salah?”
“tentu saja. Apa hakmu?” sekarang Suzy bena-benar berteriak, aku tak dapat menahan emosi diperlakukan seperti itu.

“karena aku namjachingunya” aku juga sudah mulai dengan nada tinggi.

Akspresi Suzy langsung berubah, saat aku berkata kalau aku namjachingu Jiyeon. Dia mulai menunduk dan mengeluarkan sebutir air mata tapi lama-lama, sebutir air mata itu berubah menjadi sungai.

“kau kenapa menangis Suzy?” tanyaku sedikit panik, tapi sepertinya Suzy tak berniat untuk menjawab pertanyaanku.

“Suzy-ah, ayo jawab aku!” sekarang aku sudah mengguncang bahunya.

“apa kau tak bisa berfikir sendiri, dengan gampangnya kau melupakanku dan berpacaran dengan yeoja lain, apa kau tak pernah berfikir bagaimana sakitnya hatiku? Aku sangat mencintaimu Minho-ah, tapi apa sekarang? Semuanya kacau balau. Dan yang lebih menyakitkan lagi, kau sudah mulai menyukainya bukan?”

Aku hanya dapat terdiam mendegar itu. Bagaimana mungkin aku menyakiti 2 orang yeoja dalma waktu bersamaan. God! Tidak bisakah kau memberitahuku yang mana orang yang kubutuhkan dan kucintai? Aku benar-benar tak bisa melihat mereka menangis lagi hanya karena laki-laki bajingan sepertiku.

“mianhae, Suzy-ah” ucapku dengan memeluk Suzy. Suzy sama sekali tak menjwab permintaan maafku. Dia hanya terus menangis dipelukanku. Aku merasa bersalah membuatnya seperti ini. Aku hanya dapat menyentuh rambutnya dengan lembut.

Saat aku memeluk Sezy, aku menangkap sosok Jiyeon yang menatap kami dengan linangan air mata. Kemudian dia berlari meninggalkan kami saat tatapan kami bertemu. Dia pasti salah paham.

“PARK JIYEON!” teriakku melepas pelukanku pada Suzy dan mencoba mengejar Jiyeon

TBC

Advertisements

22 thoughts on “First Love Chapter 5

  1. Ayo donkk minho…. ƍäªk usah gengsi,, blg aja kalo dy juga suka sama jiyeon….

    Makin seru.. Makin tambah gregetan n makin penasaran baca next ny…

    Update soon ya thorr
    🙂

  2. Aigo, Minho oppa galau tuhh… Milih Suzy atw Jiyi…?
    Ayo, pilih Jiyi aja Minppa…^^
    sperti’x Minppa lbih prhatian tuhh ama Jiyi… Jadi pilih Jiyi aja… ^_^

    d’tunggu sangat next part’x…
    Yg cpet yahh thor… ^_~

  3. Aku kasih pencerahan ya minho oppa..

    Kamu tu sebenarnya udah mulai suka ama jiyeon. Udah deh oppa nggak usah pusing”…
    pilih jiyeon. Minji bersatulah

    Di tunggu part lanjutan
    Yg cepet thor

  4. aigoo,,,akhirnya bisa coment juga,,,,sebenernya sih udah baca lama tpi baru bisa coment nih thor,,,
    wah,,,jiyeonnie keren,,berani bgt nyatain cintanya ke minppa,,,duh,,minppa jangan bingung dong milih siapa,,pilih jiyeonnie aja udah keliatan kok klo minppa juga suka ma jiyeonnie,,,,,thor,adain cast namja yang suka trus deket ma jiyeonnie dong biar minppa jadi cemburu trus akhirnya minppa nyatain cinta juga ma jiyeonnie,,,,,,
    update soon thor….

  5. omo ><
    kenapa jadi kaya gini yah u.u
    kasihan ji 😥
    minho bimbank yah mau pilih siapa d antara jiyi nd suzy?
    ikutin kata hatimu aja oppa, ne? 🙂
    next partnya^^

  6. terharu smpe nangis pas baca kata” jiyeon wktu ngungkapin perasaannya ma minho..kyaknya rumit bnget ksah cintanya minho..fighting jiyeon jngan klah dngan suzy..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s