Surprise Party For Him

Author : @aiva_18
Cast :
Park Jiyeon
Choi Minho
Support cast : Find in the story
Length : oneshoot
Ratting : -13
Genre : Romance
Note : oneshoot pertama, banyak typo, poster jelek (karena emang nggak bisa ngedit) #authorgaptek. Cerita ngawur, hancur dech. Tapi tak apalah maklumi ya..
SILENT READERS GO AWAY
PLAGIATOR GO AWAY

Jiyeon POV
“huaaahhhh,,,” aku terbangun dari tidur nyenyakku, menjamu pagi dengan ukiran awan dilangit sana yang kini terhiasi oleh nyanyian burung-burung yang selalu menari menemani mentari yang sendiri.
Puas menjamu pagi, aku bergegas mandi. Setelah selesai dengan urusan persiapan ke sekolah aku segera menuju ruang makan untuk sarapan dan menemui kedua orang tuaku juga saudara-saudaraku.
“good morning everybody!!” sapaku sesampainya diruang makan. Tapi, kemana orang-orang di rumah ini ? kenapa tak satupun batang hidung mereka kelihatan atau suara bising dari kedua eonni-eonnikuyang selalu beradu argument.
“eomma, appa, eonni, eodiga ?” tanyaku dengan berteriak berharap mereka mendengarnya dan segera menemuiku. Tapi apa yang kudapat tak ada satupun balsan dari mereka ataupun mereka menghampiriku.
“aissshhh,, kemana sihh mereka ini?” decakku kesal.
“ahh,, mungkin mereka masih dikamar masing-masing, aku tunggu saja mereka dulu. Karena sekarang aku lapar aku ingin sarapan dan aku harus menunggu mereka untuk sarapan bersama. Jadi, kutunggu saja mereka..” aku berusaha untuk tetap positive thingking dan tetap menunggu.
5 menit
10 menit
15 menit
20 menit
Mereka tak kunjung datang bahkan batang hidung mereka tak ada yang kelihatan. Aku bisa terlambat kalau begini, lebih baik aku pergi saja. Tapi tunggu, kunci mobilku yang bisanya terdapat digantungan di bawah tangga kenapa tidak ada?. Dengan berat hati kupustukan untuk berjalan saja sampai aku mendapatkan sebua taksi.
Dipersimpangan jalan aku mendapatkan taksi untunglah ia mau menerimaku. 15 menit perjalanan aku sampai, segera saja kubayar dan langsung berlalu menuju kelasku.
“annyeong jiyeon ah” sapa Jieun sahabat dekatku tapi aku sedang badmood jadi aku hanya menatapnya sebentar dan langsung duduk di kursiku. Menghempaskan diriku pelan dan bersandar dikursiku menutup mataku selalu seperti ini setiap kali merasa kesepian, hanya namanya saja.
Flashback
“oppa, kau serius? Kau benar-benar akan meninggalkanku? Sendiri?” tanyaku yang tak percaya, aku menatapnya nanar.
“mianhae Jiyeon ah,” katanya lirih
“hiks,,jebal,, oppa,,hiks,,jangan meninggalkanku sendiri,,hiks” pintaku yang mulai terisak.
“Jiyeon ah, uljimah,” ia mengelap lembut air mataku.
“oppa, hiks, kalau kau pergi siapa yang akan temani aku kalau aku sendiri hiks,,” tanyaku saat sudah mulai tenang walau masih sedikit terisak.
“kalau kau ingin bertemu dengangku, tutup saja matamu maka kau akan melihatku tersenyum padamu, arraseo?” jelasnya dengan tersenyum
“ne oppa” aku mengangguk.
“sekarang oppa harus pergi, annyeong” katanya setelah mengecup sekilas keninngku lalu pergi.
Aku masih terpaku ditempatku berdiri, masih terpana dengan sosok namja yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun ini. aku melihat punggung namjachinguku itu, lama sampai ia benar-benar tak kelihatan.
Flashbach end
Tergambar seulas senyum dibibirku mengingat kejadian 3 tahun lalu, saat Minho oppa, namjachinguku pergi, tepat setelah 1 tahun kami diberitahu bahwa kami terikat dalam ikatan perjodohan dan semenjak itulah aku dan Minho oppa resmi jadian.
“kupikir, chinguku yang satu ini gila” sindir Jieun membuyarkan lamunanku tentang Minho oppa.
“ya! Apa maksudmu?” tanyaku tak terima dengan sindirannya itu.
“anni, tak bermaksdu apa-apa, hanya saja saat pertama kau datang wajahmu kusut sekali, bahkan aku menyapamu hanya kau balas dengan tatapan singkatmu, lalu langsung duduk, tak lama setelah itub kulihat kau sudah tertawa tak jelas, apa kau benar-benar sakit?” jelas Jieun.
“benarkah? Aku tak merasa seperti itu kok.” Aku mengelak dari ucapannya.
“terserah kaulah, tapi kalau kau benar sakit mending kau tak usah datang tadi atau kau mau kuantar ke UKS?” tawar Jieun yang lagi-lagi bermaksud menyindirku.
“Ya!! Aku sedang tak sakit, hanya saj aku sedang bad mood” kataku pada Jieun agar ia tak menyindirku lagi.
“ohh,, kau sedang bad mood. Wae? kau mau cerita?” tawar Jieun padaku.
“…” aku hanya diam, kejadian tadi pagi teringat kembali dalam ingatanku. Errr,, bisa-bisanya mereka melakukan seperti padaku, benar-benar membuat suasana hatiku jelek.
“terserahlah kau mau cerita atau tidak, aku juga tak terlalu peduli masalah itu, karena moodmu yang jelek ini akan berubah menjadi mood yang bagus” kata Jieun sambil cengar-cengir tak jelas.
“mwo?” tanyaku bingung dengan ucapaknnya.
“hmm, setelah pulang sekolah kau harus menemaniku berbelanja, otte?” jelas Jieun.
“malas” jawabku cuek dan ketus
“wae? Kau kan selalu senang setiap kali diajak berbelanja, kenapa sekarang jawabanmu seperti itu ketus sekali” kata Jieun sambil mempoutkan bibirnya.
“hanya malas saja” jawabku lagi-lagi cuek dan ketus.
“Ya! Kau harus ikut” paksa Jieun.
“Jieun ah, kalau aku punya uang aku akan ikut kok, tapi sekarang aku benar-benar tak punya uang” jawabku jujur akhirnya karena memang pagi tadi aku berniat untuk meminta uang jajan sama appa ataupun eomma tapi tadi pagi mereka malah tiada, jadilah aku seperti ini. uang naik taksi saja hanya kubayar menggunakan uangku yang terakhir. Dan sekarang aku tak punya apa-apa lagi.
“jadi itu masalahnya? Hmm, aku bisa paham” balas Jieun seperti seorang psikiater saja yang sedang mendengar keluhan pasiennya.
“kenapa kau malah menjawab seperti itu” aku bingung sekali sikap anak ini, benar-benar tak bisa di mengerti.
“ya!! Yeoja babo, akukan hanya menyuruhmu untuk mengantarku bukan untuk menyurhmu ikut berbelanja juga,” jelas Jieun yang langsung seketika membuat tensiku naik dan mataku membulat melototinya bahkan kurasa bola mataku akan keluar.
“w-wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jieun saat melihatku, kulihat wajahnya seperti orang yang sangat ketakutan.
“kau tadi bilang apa? Hanya mengantamu? Please Jieun sperti orang kurang kerjaan saja aku, mengantarmu tapi tak dapat apa-apa. Terus kita kesana mau pakai apa? Hah?” tanya ku yang sekarang bergantian dengan Jieun mempoutkan bibirku.
“kau tenang saja, kau pulihlah nanti barang yang kau sukai, tapi jangan banyak-banyak dan mahal-mahal, selain itu aku akan mentraktirmu makan nanti, dan untuk kesan kita bisa naik taksi kan” jelas Jieun.
“arraseo, tapi sayangnya kita tak bisa naik mobilku” kataku padanya.
“wae?”tanya Jieun spontan
“karena aku tak naik mobil kesini, aku hanya naik taksi. Tadi pagi kunci mobilku tak ada, ya sudah kuputuskan saja naik taksi dengan sisa uang terakhir yang kupunya” jelasku padanya selang sepersekian detik setelah kujelaskan kudengar seperti ada yang sedang menahan tawa.
“kau kenapa menahan tawa sperti itu? Apa ada yang lucu? Apa ada yang harus ditertawakn?” jawabku ketus padanya.
“anni, hanya saja kurasa kau sangat-sangat tidak beruntung hari ini Nyonya Park” katanya sambil menekankan kata –tidak beruntung- dan –Nyonya Park-. Aku yang mendengar itu hanay mendengus kesal, karena yang ia katakana memang benar.
TREEEEETTTT…!!
Bel masuk berbunyi, kulihat Han songsaengnim masuk, ia langsung mengabsen kami satu persatu setelah itu langsung memulai pelajara.
SKIP
***
TREEEEETTTT…!!
Terdengar bel keluar.
“kajja, kita pergi atau kau mau berdiam diri disini saja sambil meratapi nasibmu yang sangat malang hari ini” ledek Jieun yang sekaligus membuyarkan lamunanku
“YA! Tak puas satu hari ini kau meledekku terus” kataku sewot dan itu memang bukan salahku karena dia memang sedari tadi terus saja mengejekku. Bukannnya ia sudah tahu tentang moodku yang benar-benar jelek, kenapa ia malah menambah moodku seperti ini sich.
“aiissshh, ya sudahlah kajja” aku menarik tangannya keluar menuju halte bus terdekat dengan sekolah.
***
Author POV
@Jiyeon’S house
Dirumah jiyeon terlihat dengan jelas kesibukan melanda orang-orang yang berada dirumah ini. Tidak terkecuali dengan seorang yeoja paruh baya, yang tak lain adalah Nyonya Park Tae Hee eomma Jiyeon. Sedari tadi Park Tae Hee terus menerus berteriak kepada pekerja-pekerja dirumah itu. Mereka tampak mendekor ruangan itu sesuai perintah Park Tae Hee. Park Tae Hee yang sibuk itu sampai tak menyadari bahwa seorang namaj tengah berada disampingnya sambil membawakan sebuah gelas yang berisi jus jeruk.
“eomma, apa kau tak capek hmm? Dari tadi ka uterus saja bekerja seperti ini. ini minumlah dulu” namja itu menyodorkan minuman yang ia pegang itu kepada Nyonya Park.
“gomawoyo Minho ah,” ucap Nyonya Park kepada namja yang bernama Minho itu. Tapi tunggu, dia bilang apa tadi , “EOMMA”, bukankah diawal cerita Jiyeon hanya mempunyai dua orang saudara yang notabennya adalah yeoja semua. Lalu, siapa lelaki ini yang telah lancing memanggil Nyonya Park dengan sebutan “EOMMA”?.
“choenma eomma” balas Minho dengan senyuman termanis yang ia miliki.
“tak salah aku memilih calon menantu sepertimu” puji Nyonya Park kepada Minho, yang tak lain adalah calon menantunya. Tapi siapa yang akan menikah dengan Minho? Ahh Molla. Mungkin nanti akn terjawab.
***
@Kedai Ice Cream
Puas berjalan-jalan selama 3 jam lebihnya, Jiyeon dan Jieun memutuskan untuk makan es krim disalah satu kedai yang mereka lewati. Jiyeon dan Jieun memang sengaja tidak makan karena mengingat Jieun yang uangnya menipis saat berbelanja dan juga Jiyeon yang merupakan orang yang sudah membuat kantong Jieun minipis seperti itu.
“Jiyeon ah, mianhae aku tak bisa mentraktirmu makan,” sesal Jieun.
“gwencana, bukankah ini juga salahku, karenaku uangmu jadi menipis, aku janji aku akan mentraktirmu besok sepuas-puasnya” janji Jiiyeon berusaha menghiur Jieun, yang sekaligus membuat dirinya jadi bingung. Buakankah sekarang yang harusnya mendapat hiburan itu dirinya karena kejadian yang berhasil membuatnya badmood bahkan terhadap sahabatnya sendiri bahkan sampai harus ditraktir seperti ini oleh sahabatnya.
“gomawo, karena kau mau menghiburku, oh ya, eommaku tadi menelpon katanya aku harus segera pulang ada hal yang penting yang harus ia dan appa bicarakan padaku, annyeong Jiyeon ah” kata Jieun lalu segera mengambil tas dan belanjaannya yang ia letakkan dikursi disamping tempat ia duduk dan langsung berlari meninggalkan Jiyeon yang masih mencerna sau persatu kata-kata yang dilontarkan oleh Jieun.
“MWO?? Ya Lee Jieun!!” omel Jiyeon saat telah mengerti dengan ucapan Jieun, tapi sayangnya Jieun sudah kelihatan di kedai itu. Dan ironisnya sekarang semua pasang mata yang ada dikedai itu tengah menatap Jiyeon dengan anehnya, terlihat beberapa orang membisik-bisikkan Jiyeon. Jiyeon yang menyadari itu segera keluar, untung saja ia sudah meminta Jieun agar mau membayar lebih dulu es krimnya sehingga tak tertambah nasib buruknya saat ini.
Jiyeon berlari kelua kedai es krim itu, saat erada diluar ia mencoba menelusuri tiap inci tempatnya berada sekarang berharap Jieun masih berada ditempat itu. Tapi nihil semua yang ia harapkan tak berjalan sesuai skenarionya dan nasib buruk hari ini memang benar-benar harus ia tanggung.
“Jieun ah, mengapa kau tega sekali, kupikir hari ini moodku akan baik karena kau mau mentraktirku, tapi apa kau malah membuat moodku semakin jelek, dengan meninggalkanku sendiri disini tanpa ada uang dan hanya belanjaan ini, huahhhh kau tega sekali” tangis Jiyeon memecah tanpa menghirakan dimana ia berada sekarang, di tempat umum, yang kau tahu? Ini sangatlah ramai. Orang-orang yang berada ditempat itu melihat Jiyeon dengan berbagai tatapan, ada yang menganggapnya yeoja sinting, gila, dan benyak lagi yang berhubungan dengan itu, ada juga yang menatapnya dengan tatapan iba, tapi ada juga yang menganggapnya yeoja aneh, sangat aneh malah.
***
@Jiyeon’s house
Minho POV
Tok,,tok,,tok,,
Terdengar suara ketukan pintu. Segera saja kuberlari kepintu utama rumah Jiyeon dan membukakan pintu.saat sudah kubuka pintu terlihat seorang yeoja berambut tak terlalu panjang terengah-engah sambil mebungkuk 90 derajat memenggang lututnya.
“Jieun ah,” seruku saat kulihat orang mengetuk pintu.
“Min,, ehh,, ho,, ehh,, ah” jawabnya saat melihatku.
“masuklah dulu,” ajakku.
“minumlah dulu, kau pasti sangat kelelahan” tawarku sambil menyodorkan segelas jus padanya.
“ne, gomawo” ucapnya setelah berhasil mengatur nafasnya dan segera meminum jus yang kuberikan padanya, dalam sekali tegukan gelas tempat jus itu sudah kosong.ia lalu menaruh gelas kosong itu dimeja didepannya dan melap bibir atasnya yang masih tersisa bekas jus itu.
“omona, Jieun ah” pekik eomma Jiyeon yang sudah kuanggap eommaku sendiri,makanya aku juga memanggilnya eomma begitu juga dengan Jieun yang sudah menganggap eomma Jiyeon sebagai eommanya sendiri. Karena sikap eommanya sudah seperti eomma kami saja, ya wajar saja kami sudah bersahabat sejak kecil makanya kami sudah seperti ini sudah menganggap orang tua sahabat kita seperti orang tua kita sendiri.
“Tae Hee eomma” panggil Jieun saat melihat Tae hee eomma.
“kau kenapa berkeringat sampai seperti ini hah?” tanya Tae Hee eomma kawatir sembari duduk disamping Jieun dan mengelap keringat Jieun.
“ah, gwencanayo Tae Hee eomma, hanya saja aku berlari menghindar dari Jiyeon mencari halte bus, setelah sampai dihalte bus terdekat itu didekat taman dan itukan jaraknya 1 km dari sini jadi aku berlari lagi” jelas Jieun.
“Ya sudah sekarang kau mandi saja dulu lalu ganti baju, kita harus bersiap-siap,” perintah Tae Hee eomma pada Jieun.
“ne eomma” Jiyeon berlalu meninggalkan aku dan Tae Hee eomma, ia menuju kekamar Jiyeon yang sudah seperti kamarnya sendiri, bagaimana tidak setiap minggu ada saja hari Jieun menginap dirumah ini.
“Tae hee eomma, apakah semuanya akan berjalan sesuai rencana?” tanyaku pada Tae Hee eomma saat Jieun sudah tak kelihatan lagi.
“wae? Kau ragu?” tannya balik Tae Hee eomma pdaku matanya menatap lekat diriku.
“ne, eomma tiga tahun bukan waktu sebentar untuk harus berpisah dengannya tanpa ada sekalipun kami berhubungan. Aku hanya takut ia sudah tak lagi menyimpan perasaannya seperti dulu padaku. Bukankah eomma bilang ia tak pernah berbicara tentangku selama aku tak ada” jelasku dengat raut wajah sedih.
“walaupun begitu eomma tahu siapa Jiyeon, dia pasti sangat mencintaimu Minho ah, dia hanya tidak ingin terlihat lemah” eomma menatapku intens berusaha menenagkan aku.
“gomawo eomma” ucapku pada akhirnya. Setelah itu eomma meninggalkan aku. Dan tak lama datanglah Jieun yang sudah siap dengan dirinya. Aku segera mengampirinya dan menarik tangannya untuk duduk disampingku. Aku menyerbu ia dengan pertanyaan-pertanyaan yang memang sudah siap dari tadi dipikiranku. Ia lalu menjawab pertanyaanku itu. Akhirnya kami terlibat perbincangan yang hanya membahas satu topic yang sama yaitu, Park Jiyeon.
***
Jiyeon POV
Mau tak mau aku harus berjalan untuk pulang kerumah, walaupun jarak rumahku dengan tempatku berada sekarang sekitar 5 km, tapi aku tetap harus pulang. Keadaanku sekarang ini sangatlah kacau, mataku yang sembab akibat menangis bahkan sampai sekarang aku masih menangis, dan bajuku yang berantakan dan kotor, apalagi aku belum mandi padahal waktu sudah pukul 07.30.
“hiks, oppa, andai, hiks, kau, ada disini, hiks, mungkin aku sudah ada di mobilmu, hiks” ucapanku disela tangis ku.
Cukup jauh aku berjalan, tanpa terasa aku sudah berada di taman yang jaraknya sekitar 1 km dari rumahku. Aku jadi bersemangat kembali tak tahan dengan lengketnya badanku sekarang aku ingin cepat-cepat pulang, membersihkan badanku, dan menyuruh Lee ahjumma untuk mengurut pergelangan kakiku yang mungkin sudah bengkak. Dengan semangat kuhapus air mataku. Walaupun dengan langkah gontai tapi aku berusaha biar aku capat sampai dirumah.
***
Author POV
@Jiyeon’s house
“eomma, appa, eonni, Minho ah, Jieun ah, semuanya, kita harus bersiap-siap sekitar 20 menit atau lebih Jiyeon sudah akan berada dirumah ia kini ada ditaman.” Kata seorang yeoja cantik yang tak lain adalah Park Bom eonni Jiyeon.
“jeongmalyo?” Minho memastikan dengan wajah sumringan
“ne, makanya kita harus segera bersiap-siap” jawab Park Bom dengan semangatnya.
“ya sudah, semuanya sekarang ayo bersiap-siap didepan pintu, dan Minho, kau matikan semua penerangan didepan dan juga disekitar pintu utama, dan kau Park Bom kau dibantu oleh Jieun, kalian berdua tutup semua jendela dengan horden, arraseo” jelas tuan Park, kepada semua orang yang hadir malam itu di rumah Jiyeon.
Semua yang mendengar itu mengangguk, mereka segera menjalankan apa yang diperintahkan oleh tuan Park, atau appa Jiyeon.
***
Sementara itu Jiyeon, masih dengan langkah terseok-seok ia berusaha untuk tetap berjalan sekitar 10 rumah lagi yang harus ia lewati untuk sampai ditempat tujuannya, rumahnya.
“Jiyeon ah, hwaiting” entah berapa kali Jiyeon ucapkan kata itu menyemangati dirinya sendiri, walau kadang air matanya sempat beberapa kali jatuh tapi dengan segera ia menghapusnya kembali kemudian berkata
“Ya! Park Jiyeon! Bukankah kau adalah yeojachingu seorang Choi Minho, bukankah sebentar lagi kalian akan bertunangan dan menikah, bukankah Choi Minho menyukai gadis yang kuat begaimana mungkin kau menangis seperti ini hah? Bagaiman mungkin kau menangis hah? Sekarang yang harus kau lakukan adalah berjalan ke rumahmu dan semuanya akan baik-baik saja, arraseo”
Begitulah penyemangat Jiyeon setiap kali ia menangis dan setelah itu ia melanjutkan perjalanannya kembali.
Rumah Jiyeon kini sudah kelihatan dari tempatnya berdiri sekarang, tapi ada yang ganjil menurutnya, tapi apa yang ganjil.
“ah matta, rumahku kenapa gelap seperti itu, seperti rumah hantu saja,”
“lebih baik, aku cepat-cepat saja berjalan supaya tahu apa yang terjadi.” Jiyeon mempercepat langkahnya walau kakinya sangat lelah.
Jiyeon sudah berada di depan pagar rumahnya yang mewah itu, bagaimana mungkin rumah sebesar dan semewah rumah Jiyeon itu bisa segelap dan sesunyi seperti sekarang serasa berada ikuburan saja bagi orang yang lewat didepan rumah Jiyeon saat ini.
“tumben sekali rumahku seperti ini, kemana semua orang yang berada dirumah ini” Jiyeon membatin.
Dengan gumpalan rasa penasaran yang melanda otaknya, ia membuka dengan perlahan pagar rumahnya, dan setelah berhasil membukan pagar rumah itu sebesar tubuhnya agar hanya tubuhnya yang bisa masuk. Dan setelah itu dengan setengah berlari ia menuju pintu utama rumah itu. Setelah sampai di depan pintu rumah itu, Jiyeon menghirup udara malam dalam, terasa dingin dan menusuk lalu menghembuskannya pelan.
Jiyeon berusaha meraih ganggang pintu rumah itu, menariknya pelan dan mendorong pintu itu,,
***
Jiyeon POV
“SURPRISE” teriakan orang-orang yang berada di rumah itu tepat saat aku membuka pintu rumahku. Dan seketika itu juga rumahku yang semula gelap menjadi terang-benderang dengan lampu-lampu yang kau tahu? Itu sangat menkjubkan.
Benarkah yang ada dihadapanku ini, pemandangan ini bukan mimpikan,
Tes
Tes
Tes
Air mata haru jatuh dari pelupuk mataku, terlalu terharu dengan apa yang aku lihat sekarang ini.
“Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida”
samar-samar kudengar orang-orang dirumah ini menyanyi selamat ulangtahun untukku. Unutk apa? Apa hari ini ulangtahunku? Memangnya ini tanggal berapa? Kenapa aku sampai tak ingin sendiri dengan ulangtahunku? Karena penasaran tanggal berapa ini, segera kuraih ponselku yang sedari tadi berada disaku seragamku, dan langsung melihat tanggal, astaga benar ini tanggal 7 Juni, berarti ulangtahunku yang ke 19.
“HUAHHHH” tangisku memecah karena baru sadar kalau aku tak mengingat ulangtahunku sendiri tapi mereka semua mengingat dengan baik.
“w-w-waeyo? Uljimma Jiyeon ah! Kenapa kau menangis? Kau tak suka?” kudengar suara seorang namja mendekatiku, suaranya begitu lembut namun terdengar kawatir, mungkin karena aku yang tiba-tiba menangis. Tapi, apa aku bilang namja? Seorang namja? Halus ? kawatir? Ah jangan-jangan dia,….
***
Minho POV

“HUAHHHH” tangisannya memecah, kenapa ia menangis.
“w-w-waeyo? Uljimma Jiyeon ah! Kenapa kau menangis? Kau tak suka?” tanyaku beruntun, sambil berjalan mendekatinya. Baru saja aku akan mendongakkan kepalannya ingin menghapus air matanya, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya, menyeka asal air mata yang ada dimatanya bukan dipipinya, mengucek-ucek matanya sebelum akhirnya membuka suara dengan tatapan bingung, kaget, senang, dan entahlah.
“o-o-oppppaa” gumamnya.
“ne Jiyeon ah, wae? Kenapa kau menangis?” tanyaku lagi, ia tidak menjawab malah berhambur memelukku.
“oppa, jeongmal bogoshipo” katanya memelukku erat akupun membalas pelukannya dan mengusap-usap rambutnya pelan.
“na do Jiyeon ah” ucapku.
“oppa,” ucapnya
“wae?” tanyaku padanya ia sudah melonggarkan pelukannya menatapku dengan mata sendunya.
“oppa, apa ini rencanamu?” tanyanya
“kamu mau thu aja atau mau tahu banget” aku mulai menggodanya
“Ya! Oppa” omelnya
Aku hanya tertawa melihat yeojaku yang sangat kurindukan ini bayangkan saja 3 tahun aku tak bertemu dengannya dan jarang sekali berkomunikasi karena memang kesibukkan yang melandaku.
“kalau kau mau tahu, pergilah dulu mandi dan berdandan dengan cantik dan jangan lupa memakai parfum asal kau tahu orang-orang yang datang kesini itu ingin muntah semua sejak kedatanganmu karena kau yang begitu bau keringat tapi karena kau tuan rumah akhirnya mereka mencoba untuk sopan dan menahan diri untuk tidak muntah” jelasku padanya pura-pura mencium bau tubuhnya yang sebenarnya harum tapi tak mungkin ia akan mengikuti pesta ulang tahunnya dengan dandanna seperti ini walaupun ia sudah cantik.
“arraseo” jawabnnya lalu pergi kekamarnya.
Selang beberapa menit ia kembali
Semua mata tertuju padanya, dia sudah seperti Cinderella di dongeng-dongeng saja atau dia itu lebih dari Cinderella melainkan jelmaan dari malaikat. Ow kenapa pikiranku ngawur seperti ini, tapi memang benar aku saja sampai saat ini belum mengedipkan mataku sampai sekarang saking terpana dengannya.
“Amazing” puji Jungsu appa pada putrinya yang memang cantik itu.
Jiyeon hanya tersenyum malu menanggapinya, terlihat jelas olehku kalau wajahnya memerah, akupun terkekeh dibuatnya.
Aku mengampirinya, menjemputnya dibawah lalu menyodorkan tanganku lalu ia menyambutnya dan menggenggam tanganku. Kami berdua berjalan berdampingan kearah eomma appa, Tae Hee eomma dan Jungsu appa.
“karena putri yang ditunggu sudah datang, Park Jiyeon maka langsung saja kita kesesi acara peniupan lilin untuk ulang tahun putrid bungsungku ini yang ke 19.” Ujar Junsu appa.
Sebelum peniupan lilin ulangtahun, aku terlebih dahulu menyuruhnya make a wish. Setelah ia mengucapkan permohonannya ia segera meniup lilin itu. Ia memotong kue potongan pertama yang tanpa dibilang ia pasti memberikannya pada eomma kesayangannya lalu pada appanya, setelah itu kuharap potongan ketiga ia berikan padaku. I hope.
Matta, selesai memotong potongan ketiga ia berjalan kearahku. Yes,,yes,,yes, girangku dalam hati tentunya.
“Ini buat oppa” katanya menyodorkan sepotong kue ulangtahunnya itu padaku.
“Gomawo uri Jiyeongi” ucapku padanya sambil menerima potongan kue itu lalu mencium sekilas pipinya. Hahaha,, terlihat jelas sekarang ia malu, bagaimana tidak? Wajahnya itu benar-benar merah terlebih lagi orang-orang diruangan ini bersiul-siul pada kami. Hahaha…
“oke sekarang kita lanjut keacara selanjutnya, yaitu acara,,,
***
Jiyeon POV
“Oke,, sekarang kita lanjutkan keacara selanjutnya, yaitu acara PERTUNANGAN PARK JIYEON ANAK BUNGSUKU DAN CHOI MINHO anak dari Choi Siwon yang merupakan sahabatku” umum appa memecah suasana yang sempat kacau akibat Minho oppa mencium sekilas pipiku.
“Ayo Jiyeongi” ajak Minho oppa padaku.
“kemana oppa?” tanyaku polos
“bukankah acara selanjutnya akan dilaksankan kita tak boleh pergi kemana-mana” lanjutku lagi.
“kau ini bagaimana sih, kan acara selanjutnya adalah acara pertunangan kita” jawabnya yang langsung disambut wajah tak percaya dariku.
“MWO??”
END
Ngenggantung ya? Hehehe, emang sengaja.
Gimana ff oneshoot pertamu gaje abis yaa?
Mianhae.. 😦
Tapi kalian tetap harus ngerhagai usaha orang lain
Gampang kok caranya RCL aja.

Advertisements

11 thoughts on “Surprise Party For Him

  1. Anyeong thor q balik lagi hehehe… ^^

    ada FF Jiyeon lagi nihh… Hore \^_^/

    nice FF,.. Suka sama crita’x tpi gantung bngt tuhh thor moment romantiz MinJi couple’x gak ada. . .
    Bkin sequel donkk thor. . .

    Banyakin FF Jiyeon yahh thor. . . Ntar aq bklan sring mampir k’sini dehh. . . ^^

  2. annyeong!!!
    readers baru nihh
    awalnya sih cuma iseng2 buka blog,, eh gk taunya ketemu blog keren kayak gini..
    terus berkarya..

  3. ya ampun!!! jiyeon benar2 dikerjain abis2an,,
    tapi gak papa, yang penting bisa ketemu minho akhirnya~ ^^
    sebenarnya endingnya masih kurang gitu,, tapi gak papa.. yang penting udah kebayar semua keringat dan peluh jiyeon seharian.. ciee-elah haha
    ditunggu ff jiyeon yang lainnya thor^^

  4. ngebayangin dah tuh ji yg jalan kaki 5 km k rumahnya? pasti capek banget itu, poor ji u.u
    tapi ujunk” nya membuahkan hasil juga kok, kekeke..
    yahh, end nya nda pas nih thor u.u
    masih gantunk u.u
    d tunggu ff ji yg lain nya nd banyakin jga ff ji yah thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s